Oleh Maria Teresa Ronderos

Banyak aktor hebat yang gagal beradaptasi dari film-film bisu ke “film bicara” dan lenyap dari layar lebar. Dengan sikap yang serupa, banyak jurnalis hebat yang berpotensi menghilang karena mereka tidak menyesuaikan diri dari era pembaca yang sejatinya “bisu” menjadi pembaca era bicara.

Ini menjelaskan mengapa di banyak negara, perusahaan-perusahaan media digital yang diluncurkan ketika media sosial telah dewasa dengan cepat mendahului koran-koran, bahkan dibanding mereka yang menyuntikkan dana besar ke dalam operasional digital mereka. Memang, media digital yang sukses harus menghasilkan jurnalisme yang bagus, tapi rahasia sesungguhnya adalah menciptakan percakapan di seputar itu. Mereka terbuka pada pembaca mereka dan dengan mudah mengetahui siapa pembacanya.

Di Eropa Timur, di mana formalitas tradisional masih menyelimuti media massa di sana, era digital sudah dihayati dengan baik. Dalam salah satu contoh, media digital baru tanpa kesulitan mengirim video kepada pembaca, sementara redakturnya duduk di dapur sambil minta maaf karena buletin membosankan yang mereka kirim.

Di Amerika Latin, media-media digital baru juga dengan sukses keluar dari nada seremonial dan formal yang menjadi karakteristik media serius di sana. Para reporter menceritakan kisah-kisah di balik berita-berita mereka; memperkenalkan diri mereka dengan bahasa slang, seolah-olah berbicara kepada teman-teman; senantiasa memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka; dan ketika memiliki konflik kepentingan tentang sebuah isu, mereka akan jujur mengenai hal itu. Mereka membiarkan publik tahu bahwa media tetaplah manusia.

Para wartawan ini menawarkan pembaca mereka, kultur horizontal baru yang lebih bebas dan lebih transparan. Namun, kadang-kadang, para jurnalis yang penuh semangat ini lupa bahwa butuh dua orang untuk menari tango. Mereka ingin menceritakan kepada para pembaca tentang diri mereka, tapi tak ada yang peduli untuk mendengar.

Baru-baru ini, saya melihat jurnalis-jurnalis dari Amerika Tengah dan Timur Tengah terperangah dengan betapa sedikitnya pengetahuan mereka tentang pembaca setelah mengambil kursus intensif, “baca analitik Anda”. Mereka mengatakan bahwa mengetahui statistik Google dan memonitor pengikut mereka di media sosial memberi perbedaan besar dalam mengetahui bagaimana berita-berita mereka diterima.

Namun, mereka, bersama dengan media lain, termasuk koran-koran terbesar AS, telah menyadari bahwa mengikuti grafik dan tren tidak sama seperti berbicara dengan publik Anda. (“Kami bisa menghitung orang-orang yang paling berpengaruh dan berwawasan di antara pembaca kami,” menurut laporan inovasi New York Time 2014. “Namun kami belum bisa memecahkan kode untuk berhubungan dengan mereka dalam cara yang membuat laporan kami lebih kaya.)

Media di era digital tahu cara mengundang para pembaca untuk menemukan dunia bersama mereka: membuka pintu sehingga pembaca mereka bisa mengecek wacana publik bersama-sama; tahu ada para pakar di antara pembaca sehingga mereka memasukkan wawasan dalam berita-berita mereka; memanggil mereka yang berkenan untuk membantu memeriksa jutaan dokumen yang mereka dapat dari sumber dan membangun basis data; bertanya pada para pemarah dan pembuli, yang menulis hinaan-hinaan di bawah artikel-artikel mereka, dari mana kemarahan mereka berasal dan, mendengar; membuka ruang untuk membiarkan pembaca memutuskan reportase yang harus mereka lakukan; mengundang saksi langsung untuk mendokumentasikan masalah yang sedang mereka investigasi, dan seterusnya. Inilah daftar tanpa akhir tentang bagaimana mereka memperkaya pemberitana mereka.

Bagi jurnalis yang meyakini hubungan dengan pembaca adalah urusan para pemasar, Monica Guzman yang menulis panduan tentang melibatkan pembaca yang diterbitkan American Press Institute tahun ini membuktikan mereka keliru. Ini bukan soal menyampaikan produk, ini soal meyakinkan para pembaca bahwa Anda menghargai dan menghormati mereka, ia mengatakan, “tunjukkan pada mereka bahwa bersama-sama, mereka memiliki hal-hal penting untuk saling mengajarkan.”

Di seluruh dunia, jurnalisme independen menjadi lebih kuat dengan sokongan komunitas yang mereka layani. Eldiario di Spanyol dan Mada Masr di Mesir mendefinisikan diri sebagai kultur, sebagai cara menjadi lebih baik, sebagai sebuah klik, sebagai sebuah ide tentang masyarakat yang mereka inginkan. Dan mereka membangun impian bersama dengan komunitas yang merasa diundang menjadi bagian dari dunia mereka, diperlakukan dengan baik, setara, seperti dalam sebuah percakapan yang baik. Publik “film bicara” tetap bertahan di sini dan para jurnalis yang gagal melihat peruntungan mereka di era baru ini kemungkinan lenyap.

Alat untuk Berkomunikasi dengan Pembaca

Contoh, Ask adalah perangkat yang dikembangkan Coral Project, sebuah upaya gabungan oleh Mozilla Foundation, The New York Times dan Washington Post, yang disponsori oleh Knight Foundation, untuk “mengumpulkan, menyokong dan berbagi praktik-praktik, perangkat, dan kajian untuk memperbaiki komunitas di web”, yang juga menciptakan perangkat lunak open-source untuk membantuk perusahaan-perusahaan jurnalistik seluruh ukuran dan jenis berkomunikasi lebih baik dengan pembaca mereka.

Ask, seperti Hearken, adalah versi yang lebih baik yang dikenal sebagai Google Forms atau Typeforms. Tapi dalam beberapa cara, perangkat ini memungkinkan Anda bertanya tentang apa yang perlu Anda tahu dari pembaca dan memungkinkan pembaca untuk mengunggah kontribusi mereka.

Mengundang Pembaca untuk Berbagi

LA Times menjelaskan metodologi mereka dalam memperoleh informasi dari para pelajar migran pemrotes yang turun ke jalan-jalan di California sepuluh tahun lalu. Dari foto-foto arsip, wartawan membuat sebuah video untuk mengundang partisipan untuk berhubungan dan membagi kisah-kisah mereka tentang apa yang telah mengubah hidup mereka sejak momen bersejarha itu. Mereka menggunakan Screendoor untuk menjangkau pelajar dari 50 sekolah yang berbeda.

Screendoor membantu media untuk mengatur tugas-tugas harian lebih baik dan memperoleh informasi jurnalistik. Mereka menyediakan perangkat untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi dari pembaca dan menuturkan berita-berita dalam pengetahuan bersama dengan pembaca.

Melihat Tren dan Mengurasi Konten

Untuk mengetahui pembaca Anda, seseorang harus mengajukan pertanyaan dan mendengar jawaban. Liquid Newsroom bekerja untuk mengidentifikasi topik yang sedang tren dan rangkaian berita-berita terbaru di media sosial. Mereka juga menawarkan perangkat untuk memvisualisasi pengikut media sosial dalam sebuah grafik dan mengidentifikasi opini siapa yang paling berpengaruh.

Alih-alih mengandalkan media sosial yang memberlakukan algoritma, Piqd, sebuah perusahaan rintisan Jerman, memilih untuk mengembalikan kekuasaan meninjau dan mengurasi pada pembacanya. Para jurnalis, politikus dan pakar di berbagai bidang diundang untuk memiliki tulisan yang paling menarik yang mereka baca di tempat lain selama hari itu dan menambahkan tinjauan pendek mereka. Piqd ingin menjadi “jaringan sosial untuk perubahan konten” yang mendapatkan value dari komunitas pembaca yang tertarik. (*)

María Teresa Ronderos adalah direktur OSF Program on Independent Journalism.

Categories: Tips