Ada krisis senyap yang merundung demokrasi kita: keruntuhan jurnalisme seperti yang telah kita ketahui. Gejala yang paling nyata adalah puluhan ribu jurnalis kehilangan pekerjaan dalam dekade terakhir. Pekerjaan itu tak pernah diisi ulang.

Pada hampir 1.400 koran harian di Amerika Serikat, Anda kini akan menemukan sekitar 33.000 jurnalis yang bekerja. Pada 2007, ada 55.000. (Penurunan 40 persen itu didokumentasikan dalam sensus American Society of Newspaper Editors 2015 .) Para ekonom mungkin menyebutnya kehancuran jurnalisme “kreatif” tradisional tapi sebenarnya tidak lebih dari persoalan ketahanan nasional.

Media-media konvensional sudah dikuasai para pemodal yang lebih suka mengerdilkan jurnalisme dengan mengekang kebebasan pers. Adakah model bisnis yang bisa menjamin kebebasan pers tanpa kehilangan daya lenturnya di pasar bebas yang global ini?

David Sassoon, pendiri dan penerbit InsideClimate News, menyatakan jurnalime nirlaba memiliki peluang untuk bertahan dan bahkan berhasil. Berikut tujuh alasan yang dikemukakan David:

1)Perusahaan ini tidak punya misi apa pun kecuali mempraktikkan jurnalisme.

Tak seorang pun yang berada di dalamnya bekerja untuk uang. Tak ada pemangku kepentingan yang harus dipuaskan. Tak ada konglomerat media yang bisa menemukan cara untuk memerahnya hingga kering. Jika sebuah usaha nirlaba menghasilkan pendapatan, akan kembali digunakan untuk lebih banyak kerja jurnalistik. Melayani kepentingan publik adalah satu-satunya fungsi, praktik jurnalisme dalam ekspresi yang paling mulia.

2)Nirlaba menggunakan sumber-sumber dayanya secara efisien, kerap dengan hasil-hasil yang spektakuler.

Pulitzer Prizes tahun ini menawarkan bukti yang paling menarik tentang hal ini. ProPublica menorehkan Pulitzer ketiganya. The Marshall Project mendapat yang pertama. InsideClimate News dinobatkan sebagai finalis untuk medali emas Public Service, tiga tahun setelah memenangi satu untuk kategori National Reporting. Kinerja yang sangat kuat untuk ketiga nirlaba dengan bujet yang jika digabungkan kurang dari US$20 juta dan jumlah staf yang kurang dari 100 orang.

3)Jurnalisme Nirlaba kebal terhadap tekanan eksternal yang bisa membahayakan kebebasan editorial.

Tentang InsideClimate News, kami tidak menerima iklan, jadi tidak ada pihak yang bisa memberikan tekanan finansial untuk memengaruhi peliputan kami. Kami juga tidak menjual ‘native advertising’ —sebuah eufimisme untuk iklan yang disamarkan sebagai editorial.

Kami tidak harus mengejar trafik atau membuat umpan klik. Kami juga tidak perlu menjilat para pembuat berita dan elite-elite lain untuk bersaing mendapatkan berita yang pertama, sehingga mereke kurang pengaruh.

Kami mendapatkan dana dari para pendonor filantrofis, yang bisa kami identifikasikan. Mereka memberikan dukungan secara umum terhadap operasional kami dan tidak punya akses terhadap proses redaksional.

4)Media-media Nirlaba harus menjadi bagus untuk bisa bertahan, dan harus luar biasa untuk tumbuh dan berkembang.

Media-media nirlaba dibutuhkan untuk mengisi lubang-lubang dalam peliputan. Kami melakukan pekerjaan yang tidak lagi bisa dilakukan industri media sendiri, tapi kami tidak akan bertahan kecuali pekerjaan kami memenuhi standar-standar jurnalistik yang tinggi dan membuat perbedaan.

5)Lebih sulit untuk mengelabui media nirlaba, terutama yang memiliki keahlian dalam subjek tertentu.

Entah bagaimana, tak seorang pun menuturkan cerita tentang pemenjaraan massal orang-orang kulit berwarna yang terjadi berpuluh-puluh tahun lalu; tak seorang pun menunjukkan bahwa Irak tidak memiliki senjata pemusnah massal hingga sudah terlalu terlambat untuk menghentikan perang; dan terlalu banyak yang masih membingkai perubahan iklim sebagai masalah perdebatan, dan bukan sebuah krisis yang sulit dikendalikan.

Ini dan kegagalan media lain menggarisbawahi kebutuhan untuk berbagai media nirlaba dengan keahlian tertentu untuk memperkuat praktik jurnalisme.

Mari untuk tidak melupakan ancaman-ancaman terbuka yang kita dapat dari orang-orang yang senang menghancurkan jurnalisme, juga. Kita butuh lebih banyak jurnalisme nirlaba untuk menggagalkan upaya-upaya semacam itu dan memperkuat peran pers yang bebas dalam kehidupan sipil dan proses demokrasi.

6)Nirlaba Membutuhkan Dukungan Pembaca

Konten di internet sebagian besar gratis, dan kebanyakan pembaca merasa berhak mendapat akses tanpa batas. Ini sebuah reaksi yang refleksif. Saya juga punya reaksi seperti itu. Namun, kami masih membutuhkan pembaca kami untuk membantu kami membayar pekerjaan yang kami lakukan.

Semakin banyak dari Anda yang memahami ini. Tak ada yang lebih baik bagi kami daripada menerima donasi daring tanpa pamrih, berapa pun jumlahnya. Bahkan lebih baik lagi ketika donasi itu adalah donasi yang rutin setiap bulan.

Sebuah momen eureka ketika kami mendapatkan pelanggan sukarela seperti itu, seorang pembaca yang memahami bahwa jurnalisme nirlaba membutuhkan dukungan di dunia baru yang berani ini.

7)Nirlaba Membutuhkan Penyokong Keuangan Sendiri

Jeff Bezos memperoleh pujian untuk perubahan yang sedang berlangsung di The Washington Post, setelah ia membawa dana US$250 juta. Ia membawa otak yang membangun Amazon untuk menyelamatkan sebuah institusi di ibukota negara.

Untuk penyokong dana dengan jumlah uang yang begitu banyak untuk dibelanjakan pada jurnalisme, ini ada sebuah sebuah saran: Luncurkan 50 media nirlaba, berikan masing-masing US$5 juta modal awal, dan jangan dikekang.

Bahkan jika hanya sepertiga atau seperempatnya saja bertahan, ini akan menjadi investasi hebat dalam masa depan jurnalisme Amerika. (*)
David Sassoon adalah pendiri dan penerbit InsideClimate News, sebuah organisasi berita nirlaba yang memenangi Pulitzer Prize untuk National Reporting pada 2013. Ia menjadi penulis, redaktur dan penerbit selama 25 tahun, terlibat dalam isu-isu HAM, pelestarian budaya, kesehatan, pendidikan dan lingkungan. Ia mendapatkan gelar master dari Columbia University’s Graduate School of Journalism.

Sumber: GIJN.org

Categories: Tips