JAKARTA, JARING.id – Kolaborasi jurnalis yang dibangun International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) menghasilkan investigasi berskala besar yang dikenal dengan “The Panama Papers”. Perlu satu tahun dan ketekunan luar biasa membaca 11,5 juta data firma hukum Mossack Fonseca yang bocor itu, kemudian mencocokkan perusahaan dan individu di berbagai negara.

Tempo satu-satunya media Indonesia yang dilibatkan membaca data dan menelusuri orang-orang Indonesia yang disebut di Panama Papers. Medio 2015, Tempo menerima surat elektronik dari Marina Walker Guevara, Deputi Direktur ICIJ. Lewat surat itu, Tempo diminta bergabung melakukan investigasi bersama 370 jurnalis yang tersebar di 76 negara.

Meski secara spesifik menyoroti orang-orang Indonesia, bukan berarti Tempo tidak bisa mendapatkan bantuan jurnalis dari negara lain. Misalnya, untuk mengonfirmasi apakah orang-orang itu terkait dengan orang tertentu di negara lain, ada forum diskusi dengan ratusan jurnalis.

Bagi Redaktur Pelaksana Investigasi Tempo, Philipus Parera, metode ini sangat efektif. Tempo tidak perlu mengeluarkan biaya banyak atau mengirim reporter melakukan pengecekan. Cukup dilakukan organisasi media yang tergabung dalam jaringan yang berada di negara itu.

Tempo juga tidak perlu konfirmasi ke Mossack Fonseca di Panama karena itu sudah dilakukan jurnalis di sana. Mereka cukup wawancara dengan kantor cabang terdekat di Singapura.

“Di samping kemudahan, keuntungan lain adalah lebih banyak kepala, kaki, tangan, dan otak yang membantu berpikir,” kata Philipus.

Redaksi Khusus

Tempo memiliki rekam jejak sebagai media yang konsisten menghadirkan investigasi. Edisi pertama Tempo yang terbit setelah pembredelan 1998 bisa dikatakan sebagai liputan investigasi. Meski saat itu, Tempo belum membentuk struktur redaksi khusus menangani Investigasi.

Philipus mengatakan baru pada tahun 2000, laporan investigasi dikerjakan satu bagian khusus Investigasi. Biasanya yang mengisi bagian investigasi sudah di jajaran redaktur. Di Tempo, ketika jurnalis sudah menapaki level yang lebih tinggi, ia dikhususkan di bidang tertentu.

Jumlah liputan yang dihasilkan bagian Investigasi per tahun bisa 5-12 liputan. Jumlah ini sangat bergantung dengan jumlah personel yang ada di bagian investigasi. Pada 2014, Tempo pernah menerbitkan 12 liputan investigasi dalam setahun dengan 12 reporter. Jarak antara satu liputan dengan liputan berikutnya bisa hanya dua minggu.

Tempo tidak punya jadwal tetap kapan menurunkan liputan investigasinya karena sangat bergantung dengan jumlah personel, tingkat kesulitan liputan dan ketersediaan dana. Ada saatnya dalam rapat disepakati pengerjaan investigasi tiga bulan, namun bisa berubah menjadi sebulan jika angle utama sudah terjawab. Atau sebaliknya bisa molor jika tim yang dibentuk rontok.

Sama dengan tantangan yang dihadapi media secara umum, menurut Philipus, Tempo memiliki keterbatasan terutama dalam segi lama waktu dan dana yang tersedia.

“Ini yang menjadi tantangan. Kalau kita lihat Spotlight, satu tahun baru terbit. Jadi mungkin jarak investigasi bisa setahun. Kita di Indonesia, Tempo khususnya, belum punya kemewahan itu,” katanya.

Kebanyakan jurnalis yang mengerjakan investigasi adalah redaktur yang diberi tanggung jawab lain. Sembari meliput, mereka punya tanggung jawab mengedit minimal lima berita online. Untuk liputan wawancara bisa dibantu reporter desk lain, tetapi untuk riset, bertemu narasumber utama, penyamaran dan liputan yang punya kesulitan tinggi, reporter investigasilah  yang diberi tugas.

Saat ini bagian investigasi beranggotakan empat orang dengan Redaktur Utama Philipus Parera, Redaktur Anton Septian dan Stefanus Teguh Edi Pramono, Staf Redaksi Rusman Paraqbeq.

Tren Investigasi

Jika dihitung sejak pertama kali bergabung dengan Tempo, Philipus berada di bagian Investigasi sudah sembilan tahun. Keterlibatan lelaki kelahiran Maumere, Flores 1970 ini dengan investigasi dimulai pada 2005 hingga sekarang. Philipus juga pernah menjadi Kepala Biro Tempo di Yogyakarta selama dua tahun.

Menurutnya, ada peningkatan tren investigasi jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dulu liputan investigasi jarang diperbincangkan, walaupun Tempo keluar dengan klaim investigasinya. Sekarang orang-orang terbiasa dengan istilah investigasi, terutama setelah televisi banyak mengangkat investigasi yang tak begitu mendalam.

Lembaga-lembaga nonpemerintahan turut memberikan sumbangsih. Adanya penghargaan khusus seperti Mochtar Lubis, Adi Warta Sampoerna, serta penghargaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), bisa menjadi penyemangat jurnalis investigasi.

Antusiasme terhadap investigasi meningkat, tetapi dari sisi produk media-media besar yang berpengaruh, jumlahnya belum cukup banyak. Menurut Philipus, kebanyakan investigasi yang ada sekarang bukan tidak penting, tapi seharusnya lebih menyoroti aspek penting kehidupan masyarakat luas.

Masih banyak topik yang jika diseriusi dengan investigasi akan membantu mendorong adanya perubahan. Memperbaiki sistem yang salah dan membongkar kejahatan sistemik yang membuat pelayanan publik terhambat.

“Harusnya banyak bicara korupsi, human trafficking, kebakaran hutan. Bagaimana dokter bermain dengan obat, kecenderungan meresep antibiotik berlebihan. Investigasi harus banyak bicara pelayanan publik. Ini penting menyangkut masyarakat luas karena di saat bersamaan ada abuse,” katanya.

Human Trafficking salah satu pelanggaran dan kejahatan sistematis yang melibatkan banyak orang dan lembaga. Semakin banyak pihak yang terlibat melakukan investigasi akan sangat membantu. Topik ini akan baik dikerjakan bersama-sama. Bukan hanya jurnalis di Indonesia, namun bersama jurnalis di negara lain.

Philipus Parera (Dok. Pribadi)
Philipus Parera (Dok. Pribadi)

Membangun Jaringan Investigasi Asia

25 September 2016, Philipus akan jadi salah satu pembicara dalam Konferensi Jurnalisme Investigasi Asia di Kathmandu. Ia akan menyampaikan materi manajemen proyek investigasi bersama dua pemateri lain, Jurnalis investigasi Umar Cheema dari The News dan Walter V Robinson Editor Boston Globe.

Momen ini akan ia manfaatkan sebagai medium bertukar informasi dengan jurnalis-jurnalis lain, terutama dengan editor dari Boston Globe yang kerja investigasinya diangkat ke layar lebar dengan judul Spotlight.

“Saya duga nggak jauh beda, metode dan modelnya tidak beda dari yang kita lakukan di sini. Tapi paling tidak kita ketemu dan sharing dari sisi manajemen dan teknik. Bagaimana mengakali orang yang sedikit,” katanya.

Menjadi pembicara dalam forum Internasional ini bukan menjadi tujuan awal Philipus. Awalnya ia mengajukan diri sebagai peserta konferensi agar bisa mendekati jurnalis-jurnalis Asia Tenggara untuk membuat jaringan jurnalis investigasi se-Asia Tenggara.

Saat ini, bagian Investigasi Tempo memang tengah berusaha meluaskan investigasi dengan menggagas jaringan jurnalis Investigasi Asia Tenggara dan Asia. Ini sebagai upaya memopulerkan investigasi yang lebih baik. Selanjutnya jika jaringan telah terbentuk, kolaborasi lebih mungkin dilakukan.

Panama Papers mengajarkan kolaborasi jurnalis bisa menghasilkan liputan yang gaung serta dampaknya luas. Kolaborasi juga menjadi salah satu solusi, menjawab tantangan minimnya tenaga dan sumber daya media untuk melakukan investigasi.

“Panama papers menjadi tonggak kalau wartawan bersama-sama menggarap dan menerbitkan serentak, maka gaungnya lebih besar. Kemungkinan mempengaruhi kebijakan lebih besar. Ini mendorong kemungkinan adanya perubahan yang lebih baik,” katanya. [Debora Blandina Sinambela]

Categories: Feature