Janet Cooke, seorang reporter The Washington Post diganjar Pulitzer Prize pada 13 April 1981. Tulisan feature-nya tentang kisah seorang bocah laki-laki berusia 8 tahun pecandu heroin dianggap pantas mendapat penghargaan jurnalistik.

Di usia 25 tahun, Stephen Glass menjadi wartawan yang paling diminati karena ia menghasilkan tulisan-tulisan yang keren, dimuat di berbagai majalah terkenal, mulai dari The New Republic hingga Rolling Stone.

Sebelum lulus kuliah, Jayson Blair sudah ditawari untuk magang menjadi wartawan di koran terkemuka, The New York Times. Tawaran itu baru diterima ketika ia lulus. Jayson langsung menjadi wartawan bintang karena sangat produktif. Dalam waktu empat tahun, ia menghasilkan 600 artikel.

Selama dua puluh tahun, Jack Kelley menjadi wartawan andalan USA Today. Ia melaporkan peristiwa kematian dan kehidupan di negara-negara konflik dengan tulisan-tulisan yang menarik. Ia pernah menulis situasi lolos dari bom bunuh diri di Jerusalem, menyaksikan para pengungsi Kuba berlayar ke Amerika Serikat dan lain-lain. Tahun 2002, ia menjadi finalis Pulitzer.

Janet Cooke, Stephen Glass, Jayson Blair dan Jack Kelley punya banyak kesamaan. Mereka dikenal sebagai wartawan-wartawan andal, menghasilkan tulisan-tulisan bertaraf penghargaan. Mereka berhasil membangun reputasi sebagai wartawan yang pantas diburu media-media besar. Namun, kesamaan paling utama dari keempat orang ini adalah mereka semua penipu ulung.

Kisah Cooke

Janet Cooke tidak pernah bertemu dengan anak berusia 8 tahun yang menjadi pecandu heroin. “Jimmy’s World”, artikel yang diterbitkan di halaman muka The Washington Post, berhasil menarik perhatian banyak orang, termasuk Walikota DC saat itu, Marion Barry. Sang walikota memerintahkan petugas polisi dan petugas kesehatan kota untuk mencari anak yang diberi nama Jimmy oleh Janet. Namun, pencarian itu tidak membuahkan hasil. Jimmy tak ada di kota itu. The Washington Post menggunakan hak Amandemen Pertama untuk menolak mengungkapkan keberadaan anak itu.

Cerita menyentuh yang dibuat Cooke juga memikat juri Pulitzer. Berkat tulisannya itu, ia diberi penghargaan tertinggi jurnalistik di Amerika Serikat tersebut. Ia menjadi perempuan Afro-Amerika pertama yang memenangi Pulitzer bidang jurnalistik.

Kemenangan Cooke bukan cuma membuat bangga The Washington Post, tapi juga tempat kerja sebelumnya, Toledo Blade. Blade segera menyiapkan sebuah cerita. Setelah cerita naik cetak, redaktur Blade membaca biografi pemenang Pulitzer yang dimuat di kawat Associated Press. Biografi yang dimuat adalah yang dimasukkan oleh peserta. Sementara biografi Blade berdasarkan dari catatan personal Cooke. Ternyata, kedua biografi itu berbeda. Dalam resume Pulitzer, Cooke mengaku lulusan Vassar College dengan magna cum laude. Menyadari perbedaan itu, para redaktur Blade mengingatkan layanan kantor berita tersebut.

Dari sinilah, kebohongan Cooke terungkap. Cooke diinterogasi oleh para petinggi Post, termasuk sang legenda Bob Woodward. Akhirnya Cooke mengaku, “Tak ada Jimmy ataupun keluarganya,” katanya. “Itu cuma cerita rekaan. Saya mau mengembalikan penghargaan itu.”

Karena pemalsuan cerita Cooke, The Washington Post tak pernah lagi sama. Kepercayaan pembaca terhadap koran yang dihormati karena di antaranya mengungkap Watergate, sedikit demi sedikit meluntur.

Janet Cooke menjadi yang pertama dari barisan para penulis berita palsu. Selanjutnya orang mengenal Stephen Glass.

Kisah Glass

Hayden Christensen berperan sebagai Stephen Glass dalam film Shattered Glass (2003).
Hayden Christensen berperan sebagai Stephen Glass dalam film Shattered Glass (2003).

Glass, ketika itu berusia 25 tahun, adalah redaktur madya di The New Republic dan seorang bintang yang mulai terang dalam dunia kewartawanan Washington. Ia menghasilkan berita-berita yang hebat. Keahliannya adalah laporan yang kaya detail dengan gaya prosa yang lancar. Kisah-kisahnya adalah tentang politikus muda konservatif di sebuah konferensi politik yang diam-diam menenggak alkohol, mengisap ganja dan membawa gadis-gadis ke kamar hotel untuk dipermalukan; atau sebuah firma Wall Street di mana para pialangnya jeda kerja hanya untuk menyembah patung Alan Greenspan; sebuah konferensi memorabilia yang memburu barang-barang bertema Monica Lewinsky. Ternyata, semua itu palsu.

Namun, artikel yang meruntuhkan semua kebohongan Glass adalah artikel tentang seorang remaja peretas yang dibanjiri hadiah dan uang oleh sebuah perusahaan komputer yang tak ingin diretasnya. Artikel ini menarik perhatian Adam Penenberg dari unit digital Forbes. Penenberg merasa aneh karena ia tak bisa menemukan bukti bahwa perusahaan komputer yang disebut Glass itu benar-benar ada. Begitulah, karier cemerlang yang dibangun Glass dari kebohongan demi kebohongan luluh lantak seketika.

Kisah Blair

Karier Jayson Blair dalam kewartawanan tampaknya ada di jalur cepat. Baru berusia 27 tahun, ia tak hanya menjadi reporter tetap di sebuah koran paling bergengsi di Amerika Serikat, The New York Times, tapi juga menjadi reporter utama dalam Penembakan-penembakan Sniper Beltway — sebuah cerita yang mungkin terbesar pada masa itu.

Blair menulis 52 kisah selama serangan sniper tersebut. Belakangan, berita-berita yang dia tulis itu diketahui palsu dan tidak akurat.

Setelah muncul tuduhan-tuduhan tentang bualan Blair, ia masih terus meliput kisah-kisah penting untuk The Times, tidak lagi tentang serangan-serangan sniper tapi berpindah ke liputan nasional tentang perang Irak.

Namun, nasib Blair sudah di ujung tanduk. Ia diketahui telah melakukan plagiarisme dan pembohongan yang mengerikan. Ia menjatuhkan bom dahsyat pada The New York Times.

Kisah Kelley

Jack Kelley juga seorang reporter bintang yang bekerja untuk di USA Today selama dua dekade. Tulisan-tulisannya mengundang decak kagum karena ia lihai memaparkan kisah-kisah tentang kehidupan dan kematian.

Pada 2002, ia menjadi seorang finalis Pulitzer. Namun, dua tahun kemudian, kariernya selama dua dekade luluh lantak. Ia dikabarkan mengarang hampir seluruh atau sebagian dari 20 kisah selama satu dekade, memplagiat lebih dari 100 kutipan atau bagian-bagian dari tulisan penerbitan lain, menyampaikan pidato yang mengulang kebohongan-kebohongan itu dan kemudian berusaha mengecoh panel yang menyelidiki pekerjaannya.

Kelley, yang saat itu berusia 43 tahun, kemudian mengundurkan diri dan meminta maaf dalam sebuah pernyataan, mengakui “sejumlah kesalahan serius yang melanggar nilai-nilai yang paling penting bagi saya.”

Cooke, Glass, Blair dan Kelley mungkin hanya empat nama di puncak gunung es pembohong di dunia jurnalisme. Ada banyak cerita lain tentang jurnalis yang membohongi dunia dengan tulisan-tulisan mereka.

Sebab Mereka Melakukan

Ada banyak alasan. Yang pasti bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan. Sebaliknya, orang-orang tersebut memiliki keahlian menulis yang tinggi karena mampu mengecoh orang-orang terkemuka di dunia jurnalistik. Janet Cooke menulis dengan indah cerita soal Jimmy, anak berusia 8 tahun yang menjadi pecandu heroin. Bahkan Gabriel García Márquez mengakui kepiawaiannya menulis. “Dia memang tidak pantas mendapatkan Pulitzer, tapi dia pantas mendapatkan Nobel Kesusasteraan,” katanya.

Stephen Glass membuktikan dirinya lebih dari sekadar penulis berbakat dan reporter brilian di beberapa majalah sebelum The New Republic menarik kembali 27 dari 41 karyanya karena pembohongan dan plagiarisme.

Tak cukup menyalahkan ambisi semata karena ada banyak wartawan ambisius tapi tidak semua pembohong. Jayson Blair pasti bukan satu-satunya yang punya ambisi di The New York Times, tapi tak bisa dikatakan semua wartawan di sana pembohong.

Namun sulit membantah bahwa beban kerja yang tinggi, tekanan untuk menghasilkan berita dan daya tarik menjadi wartawan bintang adalah aspek yang sangat memengaruhi. Sistem evaluasi dan pengawasan institusi media yang lemah bisa menjadi taman bermain bagi mereka. Disebut unggul dalam pemberitaan dibanding media lain adalah godaan yang sulit diabaikan sehingga mereka menutup mata dan mengabaikan pengecekan fakta. Dengan kata lain, Glass, Blair, Cooke, Kelley dan yang lain-lain bisa melakukan itu karena situasi memungkinkan. Dan jika kondisi ini tidak diubah, maka akan terus muncul para pembohong baru. (Ida Rosdalina)

Sumber-sumber:
1. “The fabulist who changed journalism oleh Mike Seger”, dimuat di Columbia Journalism Review, Juni 2016

2.“Whatever happened to … the foreign correspondent who made up stories?” oleh Neely Tucker, dimuat di The Washington Post.com, 22 Juli 2011

3. “Stephen Glass is still retracting his fabricated stories — 18 years later”, oleh Michael Hiltzik dimuat di LA Times, 2015

4. “10 Years After Jayson Blair, Struggles with Plagiarism Remain”, oleh Jonathan Bailey dimuat di Ithenticate.com, 2013

5. “Why They Lie: Probing the Explanations for Journalistic Cheating”, oleh
Ivor Shapiro (Ryerson University) dimuat di Canadian Journal of Communication, 2006

Categories: Feature