Kritikus televisi New Yorker Emily Nussbaum, seorang pemenang Pulitzer Prize, menggambarkan calon presiden Donald Trump sebagai seorang misoginis, pembenci perempuan yang menjalankan sebuah “kampanye buruk dan penuh kebencian terhadap orang asing.”

Yang tidak diungkap Nussbaum adalah: dia menyumbangkan dana US$250 kepada capres Demokrat Hillary Clinton pada April.

Les Waldron, seorang editor pemenang Emmy di stasiun televisi KFMB, afiliasi CBS di San Diego, memberikan US$28 pada Trump.

Dan Carole Simpson, seorang mantan pembawa acara “World News Tonight” di stasiun ABC yang pada 1992 menjadi perempuan Afro-Amerika pertama yang memoderatori sebuah debat presiden, tidak tanggung-tanggung menyatakan sikap politiknya: ia memberi Clinton US$2.800.

Kearifan konvensional mengatakan bahwa para jurnalis adalah benteng kenetralan yang tidak boleh mendukung Tim Merah atau Tim Biru, baik dalam perkataan maupun dalam tindakan. Tapi pada musim pemilihan kali ini, beberapa ratus jurnalis telah merapatkan diri pada Clinton atau Trump dengan menyumbang uang secara pribadi.

Orang-orang yang teridentifikasi dalam pencatatan keuangan kampanye federal sebagai jurnalis, reporter, redaktur atau pembawa acara televisi — juga para pendonor lain yang diketahui bekerja dalam bidang jurnalistik —jika digabungkan telah memberi lebih dari US$396.000 kepada kampanye kepresidenan Clinton dan Trump, menurut analisis Center for Public Integrity.

Lebih dari 96 persen dari jumlah uang tunai tersebut disumbangkan untuk Clinton: sekitar 430 orang yang bekerja di bidang jurnalistik, hingga Agustus, secara total mengumpulkan US$382.000 kepada calon dari Demokrat tersebut, demikian analisis Center for Public Integrity.

Sekitar 50 jurnalis yang teridentifikasi menyumbang uang total senilai US$14.000 kepada Trump.

Secara umum, hukum mewajibkan para calon federal hanya mengungkap nama-nama yang memberi kontribusi lebih dari US$200 dalam satu siklus pemilu. Jadi ada kemungkinan lebih banyak jurnalis yang memberikan dana tunai kampanye kepada Clinton maupun Trump dalam jumlah yang lebih kecil.

Tiap-tiap profesional berita memberikan jawaban unik atas pertanyaan dasar: Mengapa mau menanggung risiko kredibilitas —bahkan nafkah—untuk membantu mengisi rekening kampanye seorang calon presiden?

Simpson menggambarkan dirinya sebagai seorang “akademik” dan “mantan jurnalis”. Oleh karena itu, ia berkata ia “bebas untuk memberikan banyak hal yang ketika menjadi jurnalis dilarang,” termasuk memberi uang kepada Clinton.

Waldron, dari KFMB di San Diego, menggambarkan dirinya sebagai seorang liberal dengan huruf “l” kecil, dan meyakini para jurnalis yang memilih dan membuat donasi politik dengan sedikit dolar adalah menjalankan hak mereka.

Nussbaum dari The New Yorker beralasan, “Saya jarang menulis tentang politik.”

Donasi kerap Dilarang

Lembaga-lembaga pemberitaan yang besar kerap melarang jurnalis mereka memberi sumbangan dana pada kampanye politik semacam ini.

Masalah utamanya: kontribusi akan membahayakan keberimbangan atau menyemai persepsi bahwa para jurnalis bias.

Buku panduan etika The New York Times menyatakan bahwa para staf mereka tidak boleh memberikan uang kepada, atau mengumpulkan dana untuk, calon-calon politik. Dalam buk itu disebutkan, “Melakukan hal itu berisiko besar menanamkan impresi yang keliru bahwa surat kabar ini memihak.”

The Associated Press bahkan lebih terang-terangan, menyebutkan bahwa “Tidak ada kondisi yang mengizinkan para jurnalis menyumbangkan uang mereka untuk organisasi politik atau kampanye politik.”

Jurubicara CNN Bridget Leininger mengatakan jaringan TV kabel tersebut “tidak mengizinkan staf redaksi untuk memberikan dana untuk calon ataupun partai politik.”

Sebuah tinjauan dari puluhan kebijakan etika redaksi mengindikasikan banyak media yang tidak mengizinkan donasi politik apa pun. Buku panduan The Center for Public Integrity menyebutkan bahwa para karyawan mereka “dilarang terlibat dalam penganjuran politik atau berdonasi pada tingkat pemerintahan mana pun.”

Faktanya memang mayoritas jurnalis tidak memberikan uang pada para politikus.

“Tidak berafiliasi membantu saya merasa lebih independen,” kata Margaret Sullivan, kolomnis media The Washington Post, dan mantan redaktur New York Times.

Begitu prihatinnya akan bias sikap, sehingga mantan Redaktur Eksekutif Washington Post Leonard Downie Jr. memilih untuk tidak memilih.

Beberapa wartawan dan kaum profesional media, termasuk Sally York dari The Argus-Press of Owosso, Michigan, menolak membicarakan dana politik mereka pada 2016.

York, yang meliput masalah-maslaah lokal dan kerap menulis tentang para politikus, memberi sumbangan pada kampanye Clinton hingga US$374.

Rick Hasen, seorang dosen dari University of California yang mengedit Election Law Blog, mengatakan para jurnalis tidak seharusnya abstain dalam memberikan kontribusi kampanye — besar atau kecil — hanya karena mereka jurnalis.

“Saya tidak melihat ini sebagai persoalan selama diungkap secara wajar,” kata Hasen. (*)

 

Sumber:
“Journalists shower Hillary Clinton with campaign cash”, dimuat di website Columbia Journalism Review, 17 Oktober2016.

Categories: Feature