Jurnalisme data mulai diperbincangkan di Indonesia beberapa tahun belakangan. Lebih sekedar penggunaan data dalam liputan, teknik ini mengharuskan jurnalis menguasai berbagai perangkat lunak untuk mengolah data.

Di negeri Paman Sam jurnalisme data berawal ketika stasiun televisi CBS meminta bantuan ahli mainframe computer untuk memprediksi hasil pemilihan umum pada 1952. Namun, seperti dicatat Brant Houston dalam Computer-Assisted Reporting: A Practical Guide, tak banyak perkembangan berarti setelah itu sampai Philip Meyer, jurnalis The Detroit Free Press mengaplikasikannya dalam reportase mengenai kerusuhan sosial yang terjadi di Detroit pada 1967.

brantJurnalisme data semakin diakui eksistensinya ketika Bill Dedman dari The-Atlanta Journal Constitution meraih penghargaan Pulitzer untuk kategori Investigative Reporting pada 1989. Dia menulis cerita mengenai diskriminasi rasial yang dilakukan lembaga peminjaman di Atlanta.

Dalam sebuah perbincangan dengan para praktisi jurnalisme data di Uncovering Asia, sebagaimana dicatat Adiel Kaplan dalam Data Journalism: What’s Next?, Brant Houston mengenang bagaimana jurnalisme data dipraktikkan di akhir dekade 1980an,  “Ketika saya memulai, hidup sangatlah sederhana.”  Database manager, perangkat lunak untuk membersihkan data, dan matematika dasar menjadi  ‘amunisi’ yang digunakan Brant dalam mempraktikkan jurnalisme data ketika itu.

 

Database Manager

Executive Director Investigative Reporter & Editor (IRE) Mark Horvit menjelaskan fungsi dasar database manager secara sederhana. Ketika Anda mengelompokan kartu remi yang tidak beraturan berdasarkan warna, bentuk, dan nilai, aktivitas tersebut serupa dengan fungsi dasar dari database manager.

Kartu yang tidak beraturan tersebut dikenal sebagai data tidak terstruktur dalam jurnalisme data. Setiap kartu memiliki warna, bentuk, dan angka yang membedakan sekaligus mengaitkannya dengan kartu-kartu lainnya.

data-analysisKavya Sukumar dari Vox Media mengatakan database manager menjadi pilihan ketika jurnalis harus berurusan dengan data berukuran besar. Selain itu, dengan menggunakan Structured Query Languange (SQL), kode atau bahasa yang digunakan untuk memanipulasi data, perangkat lunak ini mampu menganalisis beberapa data sekaligus

Gaming The Lottery garapan The Palm Beach Post dicontohkan Kavya sebagai salah satu karya investigasi yang menggunakan perangkat lunak database manager. Data yang dipakai dalam liputan tersebut antara lain data lotre di Florida pada periode 2003-2013 dan data pemilik convenience store.

 

Spreadsheet

basic-excelSelain database manager, perangkat lunak pengolah spreadsheet merupakan perangkat dasar jurnalisme data. “80 persen tahapan jurnalisme data menggunakan Excel,” ujar Brant Houston menyebut salah satu merek perangkat lunak pengolah spreadsheet.

Dalam Uncovering Asia, spreadsheet diperkenalkan dalam dua sesi hands-on-training yakni Basic Spreadsheet dan Advance Spreadsheet. “Jika Anda menguasai spreadsheet, penggunaan data tahap lanjut bisa dilakukan lebih baik,” ujar Mark Horvit dalam sesi Spreadsheet Basic, Jumat (23/9).

Salah satu fitur perangkat lunak pengolah spreadsheet yang banyak digunakan dalam jurnalisme data adalah pivot table. Fungsi fitur ini adalah menyarikan data dari sebuat sheet.

Penggunaan spreadsheet sebagai data dasar bisa dilihat dalam Medicamentalia. Proyek yang dikerjakan oleh 17 jurnalis ini mencoba menggambarkan disparitas harga 14 jenis obat-obatan dasar di 56 negara dan membandingkannya dengan upah minimum di negara tersebut.

Adapun dalam Panama Papers, lima spreadsheet dijadikan dasar dari tampilan grafis yang menghubungkan nama individu dengan kepemilikan perusahaan cangkang di negara-negara surga pajak.

 

Cerita di Balik Data

Qing Tian, Data Editor Dyclub Media Lab memaparkan beberapa aplikasi berita yang digarapnya dalam sesi Teaching Data Journalism. Salah satu aplikasi berita yang dikembangkannya berusaha mempertemukan perusahaan pencari tenaga kerja dengan para pencari kerja di Republik Rakyat Tiongkok.

“Apa cerita yang ada di dalamnya?,” sela Nils Muvad, salah satu pendiri Global Investigative Journalism Network. Menurutnya, kekuatan aplikasi berita lebih dari sekedar tampilan grafis, tetapi juga cerita yang disuguhkan.

Menghasilkan aplikasi berita yang utuh, lanjut Nils, tidaklah mudah. Samakin banyaknya perangkat lunak yang terlibat dalam produksi jurnalisme menuntut adanya kolaborasi antara jurnalis dengan para ahli perangkat lunak atau pengolah data.

Kerjasama tersebut seringkali menimbulkan satu persoalan: mana yang lebih penting, gambaran umum data atau cerita spesifik dalam data tersebut? Perspektif pengolah data atau perspektif jurnalisme?

Dalam sebuah wawancara dengan Ryhan Mohd Yazid di Uncovering Asia jurnalis Boston Globe Walter Robinson menyampaikan pendapatnya ”,You can have all the data in the world, but you dont have a story until people tell their stories about what happen.” (Muhammad Kholikul Alim)

 

Sumber Lain

Houston, Brant. 2015. Computer-Assisted Reporting: A Practical Guide. New York: Routledge.

Yazid, Ryhan Mohd. “Robinson on Past and Future Journalism”. 24 September 2016. http://2016.uncoveringasia.org/2016/09/24/robinson-on-past-and-future-of-journalism/

Kaplan, Adiel. “Data Journalism: What’s Next”. 24 September 2016. http://2016.uncoveringasia.org/2016/09/24/data-journalism-whats-next/

Categories: Feature