Jakarta, JARING.id – Di awal tahun 80-an ketika pemerintah Orde baru begitu ketatnya mengawasi media, berdirilah sebuah tabloid yang diberi nama Mutiara. Aritides Katoppo yang menjadi salah satu pendirinya, bercerita jurnalis di sana mulai dilatih menulis berita komprehensif. Tidak hanya melakukan wawancara, tapi juga penelitian dan pengamatan.

Tabloid Mutiara kemudian mempertemukannya dengan sosok Bondan Winarno, yang ketika itu datang masih sebagai pewarta foto. Namun Tides, demikian Aristides Katoppo biasa dipanggil,  melihat ketekunan dan kecermatan dalam diri Bondan sehingga mengangkatnya menjadi Redaktur Pelaksana.

“Dia juga hati-hati. Jauh lebih hati-hati dari saya,” kata Tides kepada JARING ketika dihubungi via telepon Rabu (29/11).

Bagi Tides, ketelitian dan kecermatan Bondan itu yang membuatnya mampu mengungkap manipulasi yang dilakukan perusahaan mineral Bre-X asal Kanada yang menambang emas di Busang, Kalimantan Barat.

Bondan terlatih berpikir skeptis dengan mempertanyakan terus menerus fakta yang didapat. Mengujinya, melihat sampel emas hingga ke lokasi penyimpanannya dan mencari motif.

“Dia punya bakat tersendiri,” ujar Tides.

Bondan menghasilkan salah satu karya investigasi terbaik berjudul Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi. Berawal ketika geolog asal Belanda, John Felderhof mengungkapkan adanya potensi cadangan hingga satu juta ons emas di Busang. Felderhof kemudian mengajak promotor saham asal Kanada David Walsh mencari dana. Bermodal kliping koran, nilai saham Bre-X berhasil didongkrak dari CAD10 sen menjadi CAD201 dolar.

Rupanya keberadaan emas itu hanya isapan jempol belaka. Ketika manajer eksplorasi Bre-X Michael Antonio Tuason de Guzman akan memenuhi panggilan Freeport untuk menunjukkan lokasi emas ditemukan, tiba-tiba ia dikabarkan meninggal karena jatuh dari helikopter.

Bondan menemukan banyak kejanggalan dalam kejadian ini. Pertama dari surat-surat peninggalan yang mengesankan bunuh diri karena penyakit hepatitis B yang diderita. Tak ada alasan bagi sosok yang dikenal sebagai penikmat kehidupan itu bunuh diri, apalagi tak satupun catatan medis menunjukkan dia mengidap hepatitis B.

Kedua, penemuan jenazah itu dilakukan dalam waktu yang singkat di tengah belantara hutan Kalimantan yang dikenal lebat. Selain itu, trauma yang ditunjukkan jenazah itu lebih mengarah kepada seseorang yang jatuh dari ketinggian pohon kelapa, bukan dari ketinggian 800 kaki.

Bondan bahkan sampai ke Fillipina menemui saudara kandung de Guzman. Semua biaya itu dia tanggung sendiri seperti yang dikisahkannya saat diwawancara wartawan Oryza Ardiansyah. Yang menarik dari pertemuan itu, saudara de Guzman menolak wawancara walau Bondan yang jauh-jauh dari Jakarta sudah di rumahnya. Bondan tidak memaksa dan pergi. Sejam kemudian dia menggunakan telpon umum menghubungi kembali dan mendapat sedikit kesempatan wawancara dari jauh.

“Yang berkesan, itu, sebuah laporan investigasi dilakukan dengan cara yang santun. Dia tidak memaksa narasumber,” kata Metta Dharmasaputra, penulis laporan investigasi Saksi Kunci saat dihubungi Kamis (30/11).

Sikap tidak memaksa narasumber itu salah satu gambaran kontradiktif jika dibandingkan dengan jurnalis-jurnalis investigasi saat ini. Dari Bondan, Metta belajar bahwa investigasi tidak melulu dilakukan dengan gegap gempita dan hiruk pikuk.

Kenangan tentang Bondan tidak hanya karya investigasinya, namun Metta menjadi pembaca setia kolom Kiat yang sempat diisi Bondan di majalah Tempo. Bondan mampu mencermati fenomena yang tidak dilihat orang dan menjelaskan menjadi sesuatu yang berarti.

“Dia punya kejelian, kedua punya ketelitian. Ketelitian yang selalu memandu dia ke dalam inti persoalan. Itu sebenarnya yang jadi kekuatan dia ketika menulis banyak hal dan menulis investigasi,” ujar Metta.

Desember 2014, Bondan menelepon Metta mengajaknya bertemu, sekaligus menjadi pertemuan terakhir mereka. Bondan cerita bagaimana dulu sendirian mengahadapi tuntutan tanpa dukungan, liputannya sepi tapi mendapat tuntutan. Waktu itu juga sedang ramai mempertanyakan keputusan Bondan yang maju menjadi calon legislatif dari Partai Gerinda.

Ternyata Bondan ingin maju karena punya visi perbaikan gizi nasional, khususnya anak-anak. Dan hanya Gerindra yang menerima usulan itu. Bagi Metta, alasan ini justru jauh dari hal politis. Metta mendapati sosok yang ditemuinya pertama kali 18 tahun lalu dan terakhir kali 3 tahun lalu masih sosok yang sama.

“Pribadi yang menarik untuk seorang investigator, sangat humble, low profile, teliti dan santun,” ujar Metta.

Di usia ke 67, sosok itu menghembuskan nafas terakhir Rabu, 29 November 2017 akibat penyakit jantung yang diderita. Bondan meninggalkan banyak pelajaran dari hidupnya yang penuh warna. [Debora Blandina Sinambela]

Categories: Feature