“Saya kerja mulung, harus dorong gerobak. Pulang ke rumah rusun saya harus naik tangga. Pinggang saya sudah tidak kuat,” ucap Saodah sembari memijit-mijit kakinya. Ia menceritakan kesehariannya tinggal di rumah susun sewa (Rusunawa) Rawa Bebek, Jakarta Timur. Perempuan berusia 52 tahun ini belum lama berdiam di sana. Ia merupakan salah satu warga yang digusur dari Kampung Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Timur, April 2016.

Menempati ruang berukuran 4×6 meter di rusun, Saodah merasa hidupnya tidak senyaman seperti di rumahnya yang dulu. Selain karena alasan ekonomi, kegiatan sehari-harinya menjadi terbatas. Tatkala berdiam di Kampung Pasar Ikan ia leluasa menikmati hidup bertetangga.

Ia bisa bertegur sapa dan becengkrama dengan jiran dan warga lain tanpa harus turun naik tangga. Ketika ia dan keluarganya kehabisan beras atau lauk-pauk, ia dapat dengan mudah berbagi dengan mereka yang berumah di sebelah.

Di Rawa Bebek, ceritanya beda. Pernah suatu ketika ia tidak memiliki uang sama sekali. Sungguh bingung dia sebab tidak tahu harus meminjam ke siapa. Ia belum merasa dekat dengan sesama penghuni rusun. Dulu, ketika masih di Kampung Pasar Ikan, saat tidak mengantongi uang sama sekali ia masih bisa mencari pemasukan dengan mengamen.

Kini ia tidak tahu bagaimana harus mencari pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatan. Untunglah belakangan sudah ada beberapa tetangga yang sudi mengulurkan tangan. Tentu saja ia tidak mungkin mengandalkan mereka untuk seterusnya.

Di usianya yang terus bertambah Saodah mencemaskan dirinya. Kalau terjadi apa-apa ketika pergi dan pulang dari memulung bagaimana? Itu pertanyaan yang selalu menggelayut di pikirannya. Ia harus menapaki anak tangga ketika keluar dan menuju rumahnya, sementara kedua kakinya semakin ringkih saja.

Saat ini ia tinggal dengan anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Dia berharap Pemerintah Daerah Jakarta bisa memberikan hunian yang layak sesuai kondisi tubuhnya sekarang.

Muklis, warga Bukit Duri, tak mau merasakan pengalaman seperti yang dicecap Saodah. Dia sudah menyaksikan sendiri keadaan saudaranya yang tinggal di rusun Rawa Bebek. Ruang tempat tinggal mereka sempit.

“Saudara saya tinggal di Rusun Rawa Bebek lantai 3. Mau beli apa-apa harus naik turun dulu. Lah, kalau di sini mau ke mana-mana gampang. Warung dekat, sekolah anak juga dekat.”

Itulah salah satu faktor yang membuat dirinya enggan boyongan dengan kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah. Belum lagi akses ke mana-mana yang tidak mudah di rusun. Ia memilih tinggal bersama anak sulungnya di sebuah rumah kontrakan tak jauh dari rumahnya dulu yang sudah digusur.

Sesungguhmya, sebab utama sehingga ia tidak mau pindah ke rusun tidak lain dari pekerjaannya sebagai buruh lepas pemasang wallpaper. Menurut perhitungannya, ia tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan di daerah sekitar rusun Rawa Bebek. Selama ini dia lebih banyak mendapat panggilan kerja di daerah Jakarta Selatan.

Tertutup
Seperti kalangan yang tinggal di apartemen, mereka yang pindah ke rumah susun pasti akan berubah gaya hidupnya. Aktivis dari Rujak Center for Urban Studies (RCUS) Andesha Hermintomo mengamati hal itu.

“Rujak tidak melakukan penelitian rusun tetapi ada beberapa kegiatan yang kami lakukan bersama warga yang tinggal di sana. Kami, misalnya, mensosialisasikan peraturan tata ruang ke mereka. Termasuk apa hak dan kewajiban warga dalam proses penyusunan tata ruang. Dalam proses ini mereka curhat juga tentang masalah atau kesulitannya sehari-hari,” kata Andesha.

Masyarakat kelas bawah yang terbiasa hidup komunal umumnya mengalami kendala ketika harus tinggal di hunian vertikal. Ruang gerak mereka menjadi semakin terbatas. Itu antara lain yang dikeluhkan warga dalam sejumlah pertemuan dengan Rujak. Sebelum pindah ke rusun, mereka terbiasa membuka pintu rumahnya dari pagi hingga malam.

Kaum pria dengan mudah bisa kongkow di pondok di bawah pohon atau di pos keamanan lingkungan. Kaum ibu begitu saja bisa guyub di depan rumah ketika membeli sayur-mayur pedagang keliling. Begitu pindah ke rusun perlahan mereka menjadi lebih tertutup.

Tak ada lagi pintu rumah yang terbuka sepanjang hari. Tempat jual beli, arena bermain, layanan kesehatan, dan ruang kumpul terpusat di lantai dasar. Tak banyak kaum ibu atau pun bapak yang bercengkrama di sana kecuali di momen tertentu seperti lebaran.

Kebiasaan lain yang berubah adalah saat menerima tamu atau bertamu. Dulu, saat berdiam di kawasan horizontal mereka tidak dibatasi oleh peraturan kalau hendak menerima pengunjung di kediamannya. Tetamu datang begitu saja, tak perlu melapor ke petugas keamanan.

Sekarang ceritanya lain. Orang luar yang datang wajib lapor ke petugas sekuriti yang disiapkan pegelola rusun. Menjadi serba formil, jadinya. Akibatnya, hanya jika perlu saja orang datang bertandang.

Warga yang berpindah hunian pasti akan menjalani adaptasi. Akan lebih baik kalau mereka sudah punya gambaran dulu seperti apa penyesuaian diri yang perlu mereka lakukan; jadi tidak serba ‘bagaimana nanti’. Seharusnya, menurut Andesha, sebelum memindahkan warga yang terbiasa hidup di wilayah horizontal ke hunian vertikal, pemerintah terlebih dahulu menjelaskan kepada warga karakter dari hunian nanti. Selain itu otoritas juga perlu memberikan kesempatan kepada warga untuk menyampaikan solusi hunian yang sesuai dengan kehendak mereka.

“Sebaiknya semua solusi dipresentasikan. Rumah susun itu seperti apa, disainnya seperti apa, dibangunnya kayak gimana ya dipresentasikan. Tapi warga juga berhak mempresentasikan isi pikirannya. Misalnya kalau dia tinggal di hunian 4 lantai kesulitan apa nanti. Solusinya harus ditemukan dulu sebelum rumah susunnya dibangun.” (Hospita Yulina S.)

Categories: