JAKARTA, Jaring.id – Indonesia jauh tertinggal dalam jurnalisme investigasi, dibanding Jepang, Filipina, bahkan Nepal. Menurut Wahyu Dyatmika, wartawan Tempo, di Indonesia ekosistemnya tidak memberi oksigen untuk jurnalisme investigasi.

Ada beberapa faktor yang menjadi penghalang jurnalisme investigasi tumbuh subur di Indonesia.

“Yang pertama adalah regulasi. Kita memang punya UU Pers yang bagus untuk mendukung wartawan agar tidak dipidana. Tapi, perlindungan untuk para whistleblower belum memadai, sehingga tidak cukup memotivasi dan melindungi orang ketika membuat proyek investigasi,” katanya dalam diskusi “Peluang dan Tantangan Jurnalisme Investigasi” yang digelar Jaring di Jakarta, Senin (21/11).

Hal lain yang juga memberatkan adalah model bisnis yang sudah bermasalah. Media dengan konten bagus tidak selalu bagus secara ekonomi. “Sebaliknya, media yang biasa-biasa saja, cenderung tidak bagus, malah untung secara ekonomi. Tidak ada insentif bagi wartawan dan media untuk investigasi. Jadi, untuk apa bikin investigasi, toh, tidak ada korelasinya dengan profit perusahaan,” kata Wahyu.

Selain itu, independensi newsroom di Indonesia masih jauh. “Kita tahu persis bagaimana editor bahkan pemimpin redaksi sering menitipkan pesan kalau liputan menyangkut pemasang iklan tertentu, tidak usah terlalu keras,” tutur Wahyu. Kondisi ini sama sekali tidak kondusif bagi wartawan yang ingin membuat investigasi.

Fakta lain yang juga menjadi penghalang adalah akses informasi yang masih lemah. Inisiatif open data yang dikembangkan pemerintah dengan data.co.id, tidak konsisten. “Situsnya sering down, atau data yang diminta tidak tersedia. Inisiatif ini masih terkesan topdown. Orang-orang di kementerian tidak punya kesadaran yang sama tentang pentingnya membuka data,” kata Wahyu.

Yang terakhir, menurut Wahyu, adalah kompetensi wartawan yang masih lemah. Skill berkembang kalau terus diasah; semakin sering menginvestigasi, semakin mumpuni. Jika di medianya tidak diberi ruang, kemahirannya akan tumpul.

Tren Global

Situs medicamentalia.org yang dibuat Civio asal Prancis. (Ist)
Situs medicamentalia.org yang dibuat Civio asal Prancis. (Ist)

Sementara kondisi jurnalisme investigasi di Indonesia belum menggembirakan, di dunia internasional, selama lima tahun terakhir, ada tiga tren besar yang terus berkembang.

“Yang pertama, perkembangan jurnalisme data. Cerita itu tidak hanya narasi. Tapi ditampilkan dengan grafis dan map. Data disajikan dengan interaktif sehingga sehingga pembaca memiliki banyak narasi untuk satu cerita,” kata Wahyu.

Salah satu contoh menarik dari jurnalisme data adalah sebuah microsite yang dibuat oleh Civio dari Prancis, yaitu mediamentalia.org.

“Mereka membuat liputan satu tahun lamanya untuk melacak harga obat dan mengapa harga obat lebih mahal di negara berkembang ketimbang negara maju,” kata Wahyu.

Tren selanjutnya adalah proyek-proyek investigasi kolaboratif atau lintas negara. “Ketika problem-problem besar di dunia sudah lintas negara, misalnya problem lingkungan, problem ekonomi menjadi masalah global, wartawan juga bekerja lintas negara.” ujar Wahyu.

April tahun ini, dunia dikejutkan oleh Panama Papers, sebuah cerita besar tentang perusahaan-perusahaan cangkang di luar negeri yang dimanfaatkan orang-orang berpengaruh, orang kaya, para pejabat negara, para gembong mafia dan lain-lain untuk menyembunyikan kekayaan.

Panama Papers contoh paling mutakhir tentang isu yang digarap scara crossborder, itu dampaknya luar biasa. Kita sudah lama mendengar tentang bagaimana perusahaan-perusahaan menyembunyikan kekayaannya di luar negeri. Begitu ditulis sebagai liputan bersama, lebih dari 100 negara, tiba-tiba dampaknya jadi sangat-sangat besar,” kata Wahyu.

Yang terakhir, tema yang kerap muncul dalam konferensi-konferensi, adalah jurnalisme investigasi nirlaba. “Semakin muncul kesadaran bahwa jurnalisme investigasi tidak bisa dilakukan semata-mata oleh media mainstream, yang mau tidak mau komersial motifnya,” kata Wahyu. Civio yang membangun medicamentalia.org adalah contoh lembaga nirlaba yang mampu melakukan investigasi bagus.

Bagaimana cara mencari pendonor juga kerap menjadi tema dalam berbagai konferensi. “Wartawan diajak untuk membuat start-up sendiri. Nggak usah berharap lagi dari industri media karena sudah hampir tidak mungkin dengan struktur media seperti sekarang berharap investigasi bisa berkembang,” kata Wahyu. (Ida Rosdalina)

 

Categories: Politik Berita