Selama lima tahun terakhir, segelintir orang menguasai sejumlah proyek pembangunan di Kabupaten Bantul. Mereka dekat dengan penguasa. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Bhekti Suryani.

Rumah di gang sempit di Jalan Bantul kilometer delapan itu lebih mirip tempat tinggal warga menengah ke bawah, ketimbang kantor perseroan. Tembok rumah berwarna jingga sudah lapuk dimakan jamur. Mobil pick up butut terparkir di depan rumah berpagar putih yang sudah berkarat itu.

Di beranda rumah terpampang plang nama dua lembaga perseroan atau commanditaire vennootschap (CV), yaitu CV Kartika Buana dan CV Sasmita. Beralamat di RT 12 Dusun Karanggondang, Pendowoharjo, Sewon, Bantul. Saat media ini mengunjungi rumah itu, tidak tampak ada penghuni di dalamnya.

Bangunan sangat sederhana itu bukan kantor sembarangan. Lembaga konstruksi ini mengerjakan proyek belasan miliar rupiah sepanjang 2012 hingga 2015. Keduanya masuk dalam lima besar rekanan yang paling banyak mengerjakan proyek konstruksi dari Pemkab Bantul selama tiga tahun terakhir. Media ini menelusuri data seluruh proyek konstruksi di website Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kabupaten Bantul yang memuat data lelang konstruksi sejak 2012 sampai sekarang.

CV Kartika Buana bertengger di urutan kedua sebagai rekanan yang paling banyak memenangi lelang atau tender sejumlah 23 kali dari total 687 proyek konstruksi yang dikerjakan di Bantul pada 2012-2015 dan termuat dalam data LPSE. Dengan total nilai proyek CV Kartika Buana mencapai Rp18,9 miliar. Posisinya hanya satu tingkat lebih rendah dari CV Candi Sari yang tercatat sebagai pemenang lelang konstruksi terbanyak sejumlah 26 kali sejak 2012 hingga 2015, namun total nilai proyek yang dikerjakan  lebih rendah dari CV Kartika Buana yaitu sebesar Rp17 miliar.

Sejak LPSE melansir data lelang pada 2012 sampai sekarang jumlah proyek yang dimenangi CV Kartika Buana terus melonjak. Dari hanya dua proyek pada 2012, naik menjadi delapan proyek pada 2014. Perseroan ini mayoritas mengerjakan pembangunan jalan lingkungan.

Sedangkan CV Sasmita yang berada satu kantor dengan CV Kartika Buana berada di posisi ke empat terbanyak mengerjakan pembangunan infrastruktur dengan nilai proyek mencapai Rp14,6 miliar. Namun dari sisi nilai proyek, CV Kartika Buana menempati urutan kesepuluh (Rp18,9 miliar) dari total setengah triliun anggaran yang digelontorkan Pemkab Bantul untuk membiayai 687 proyek konstruksi selama tiga tahun terakhir.

Situs Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) menguak siapa pemilik sejumlah perseroan yang paling sering menikmati Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bantul lewat puluhan proyek konstruksi tersebut. CV Kartika Buana dipimpin oleh seorang direktur bernama Linsiana, serta Raz Fides Umi Rahmawati menjabat sebagai Komanditer. Linsiana ternyata juga menguasai CV Sasmita. Ia adalah komanditer CV Sasmita. Sementara direkturnya dijabat oleh Qatrunnada Nisrina Salma yang tak lain adalah putri dari Linsiana. Sedangkan CV Candi Sari yang tercatat paling banyak memenangi lelang dipimpin seorang direktur bernama Erwin Ariyanto.

Sebagian pemilik CV tersebut bukan orang sembarangan. Diantaranya pemilik CV Kartika Buana Linsiana. Penelusuran media ini menemukan, ia adalah isteri kedua dari mantan Bupati Bantul Idham Samawi. ??Saya menyaksikan sendiri pernikahan mereka [Idham Samawi dan Linsiana] di sebuah masjid di Madinah sekitar awal 2000,? ungkap salah seorang sumber yang ikut menyaksikan pernikahan keduanya di Madinah, Arab Saudi akhir Desember lalu.

Idham Samawi menjabat bupati Bantul selama dua periode pada 2000 hingga 2010. Setelah ia lengser, isteri pertamanya Sri Surya Widati kemudian menggantikan posisinya pada 2010-2015. Ida sapaan akrab Sri Surya Widati tak menjabat bupati selama suaminya. Ia kalah melawan calon bupati Suharsono dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bantul 9 Desember lalu saat hendak mempertahankan posisinya untuk kedua kali.

Sumber lainnya dari orang dalam Pemkab Bantul juga mengungkapkan hubungan dekat Idham dan Linsiana. Semua orang sudah tahu itu isterinya tapi enggak ada yang berani bicara, kata pejabat teras yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanannya itu.

Idham Samawi tak membantah Linsiana adalah isteri keduanya. Jangan disinggung apakah isteri saya dan sebagainya, tapi monggolah, ungkap Idham saat dikonfirmasi awal Januari lalu. Namun ia membantah telah menggunakan pengaruhnya sebagai suami dari bupati Bantul Sri Surya Widati sepanjang 2010-2015 untuk mengatur dan memenangkan proyek konstruksi yang dijalankan isteri keduanya. Saya jawab tidak benar kalau dikaitkan dengan saya. Enggak ada kaitan dengan saya, bahwa untuk dapatkan proyek, tegas anggota DPR RI itu.

Sri Surya Widati juga membantah mengatur proyek sehingga dimonopoli segelintir rekanan. “Saya enggak paham itu teknis sekali, bisa ditanyakan ke Bappeda [Badan Perencanaan Pembangunan Daerah]?” tutur Ida singkat saat ditemui akhir Desember lalu.

Kiprah Mantan Calon Boneka

Tak hanya Linsiana yang namanya tersohor di sektor konstruksi lantaran sering memenangi lelang yang diselenggarakan Pemkab Bantul. Data LPSE memuat siapa rekanan yang memperoleh nilai proyek paling besar sepanjang 2012-2015. PT Bayu Utama bertengger di urutan pertama sebagai rekanan dengan nilai proyek paling besar mencapai Rp46,6 miliar selama tiga tahun terakhir, atau menguasai sekitar 8% dari total nilai proyek APBD sebesar Rp552 miliar sepanjang 2012-2015.

Kendati dari sisi jumlah proyek, perusahaan yang dipimpin pengusaha Ibnu Kadarmanto sebagai direktur itu berada di urutan ke-40 dari total 65 rekanan yang mengikuti tender konstruksi. PT Bayu Utama bukan rekanan baru, perusahaan ini telah berdiri sejak 30 Maret 1978. Berpengalaman mengerjakan hampir segala sektor kontruksi baik bangunan kesehatan, pendidikan, pasar, stadion, jembatan dan masih banyak lagi.

Ibnu tak berbeda jauh dengan Linsiana. Pengurus Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional  (Gapensi) Bantul itu terkenal dekat dengan penguasa. Namanya kondang di kalangan pengusaha konstruksi dan juga rakyat Bantul. Nama Ibnu Kadarmanto melambung saat helatan Pilkada Bantul 2010. Ia maju sebagai calon wakil bupati mendampingi Kardono sebagai calon bupati.

Kala itu berbagai media memberitakan pasangan Kardono-Ibnu Kadarmanto (Karib) sebagai calon boneka bagi pasangan calon bupati Sri Surya Widati-Sumarno. Pasangan Ida-Sumarno khawatir calon lawan saat itu (Sukardiyono-Dharmawan Manaf) tidak serius mendaftarkan diri pada Pilkada 2010, sehingga keduanya terancam gugur sebagai pasangan calon peserta Pilkada lantaran tidak ada lawan. Pasangan Kardono-Ibnu Kadarmanto diduga disiapkan untuk mencegah Pilkada dengan calon tunggal.

Pasangan ini diusung oleh PDIP yang kala itu dipimpin oleh Idham Samawi alias suami dari Sri Surya Widati (lawan Karib). Idham Samawi kala itu menjabat Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP DIY. Sedangkan isterinya Ida, saat itu di atas kertas diusung oleh Partai Amanat Nasional (PAN).

Keyakinan kuat pasangan ini boneka juga tampak jelas dari sejumlah fakta saat itu yang kini masih terdokumentasi di berbagai media. Pasangan ini antara lain tidak mengambil jatah empat kali kampanye terbuka yang disediakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) layaknya dua pasangan lain.

Setelah Pilkada yang memenangkan Sri Surya Widati-Sumarno berakhir, nama Ibnu jarang muncul. Kini ia tercatat sebagai rekanan yang memenangi proyek konstruksi dengan nilai paling besar se-Bantul. Tiap proyek pembangunan yang dikerjakan PT Bayu Utama rata-rata bernilai lebih dari Rp1 miliar. Sejak 2013, jumlah proyek yang dimenangi perusahaan yang beralamat di Jalan Parangtritis kilometer 11, Manding, Serut, Sabdodadi, Bantul itu terus melonjak. Semula dari hanya satu proyek pada 2013 menjadi empat proyek pada 2015. Sejumlah proyek yang dikerjakan PT Bayu Utama antara lain pembangunan Pasar Bantul tahap I  dan II.

Ibnu Kadarmanto mengklaim memenangi proyek secara profesional, alias tidak ada kongkalikong dengan penguasa. “Kalau yang lelang cuma itu dan memenuhi syarat maka yang menang itu. Memang saya ikut lelang dengan sadar. Enggak mungkin kan orang yang enggak daftar lelang menang lelang?” kata Ibnu menyindir pihak-pihak yang mengkritik perusahaannya.

Strategi Tiga Bendera

Penguasaan proyek-proyek konstruksi oleh orang dekat penguasa dianggap bukan suatu kebetulan. Ada kongkalikong dalam prosesnya. “Enggak mungkin itu [tidak ada kongkalikong], itu sudah ada deal dulu [siapa yang menang],” ungkap salah seorang kontraktor menceritakan pengalamannya mengikuti lelang konstruksi di Bantul, Januari lalu.

Menurut sumber itu, salah satu modus yang dilakukan, biasanya CV atau rekanan yang digadang-gadang menang membuat deal atau kesepakatan terlebih dahulu dengan CV lainnya yang sama-sama mengajukan lelang. CV lainnya tersebut berperan sebagai CV boneka dengan pura memasukkan penawaran.

Modus semacam ini dikenal dengan strategi tiga bendera. Syarat yang mengajukan lelang minimal ada tiga penawaran atau tiga bendera rekanan. Dari tiga itu sudah tahu yang bakal menang siapa, jadi yang dua itu [CV boneka] pura-pura mengajukan. Nanti dibuat syaratnya tidak lengkapkah, jadi enggak akan lolos, ungkap pria itu.

Kongkalikong kata dia diduga juga terjadi antara rekanan dengan panitia lelang. Ini modus yang kedua. “Pernah saya mengajukan penawaran, harga saya paling rendah dan sudah memenuhi syarat. Harusnya menang. Tiba-tiba pengumuman lelang itu dibatalkan. Nanti beberapa waktu kemudian muncul lagi pengumuman itu. Tapi sejumlah persyaratannya sudah diubah, otomatis saya gugur. Yang menang ya CV itu-itu lagi. Saya kira tidak ada perubahan persyaratan,” papar rekanan yang banyak mendapat proyek konstruksi dari Pemkab Sleman, Kota dan kementerian itu. Kondisi itu menurutnya telah berlangsung selama 15 tahun. “Bantul itu proses lelangnya buosok…[busuk], bongkar saja. Saya senang kalau proses lelangnya benar,” imbuhnya lagi.

Kepala Bagian Administrasi Pembangunan yang menangani LPSE Bantul Bobot Ariffiaidin membantah ada kongkalikong dalam proses lelang. “Sekarang ini prosesnya sistem online. Sebelum menang diawali pengumuman. Karena online siapa pun bisa lihat dan daftar [proses lelang]. Kita tidak bisa membatasi siapa pun yang ikut penawaran,” Bobot menerangkan.

Ditambahkan Bobot, penawar lelang dengan harga terendah bukan merupakan faktor penentu kemenangan lelang. Karena panitia lelang masih mempertimbangkan kemampuan rekanan tersebut selain harga murah. (bhekti@harianjogja.com)

Tags:
Categories: Pilkada Bantul

Tinggalkan Balasan