JAKARTA, JARING.id – Media massa di Indonesia bahkan seluruh dunia harus terus memutar otak agar bisa bertahan di era digital. Bukan hanya bagi media cetak, media yang mulai beralih ke bentuk digital pun mengalami masalah sama.

Hingga saat ini, belum ada media yang meraup untung murni dari bisnis media digital. Media massa belum menemukan format model bisnis digital yang sesuai. Media massa justru harus bersaing dengan media seperti Facebook dan Google.

Beberapa media massa digital mencoba menarik pengiklan dengan berlomba-lomba menaikkan rating dan share, meski terkadang harus mengorbankan kualitas konten. Menekankan kecepatan dan sensasi, mengabaikan verifikasi dan data.

Metode rating, klik atau share tentu menguntungkan media besar, namun tidak untuk media kecil. Lalu bagaimana media massa digital mampu bertahan di era digitaliasi tanpa harus mengorbankan kualitas, terlebih media-media kecil di daerah? Pembahasan ini mengemuka di salah satu panel World Press Freedom Day 2017 di Jakarta Convention Center, Selasa 2 Mei 2017 lalu.

Kolaborasi

Sebuah keniscayaan jika kepemilikan media terkonsentrasi di era industrialiasi media sekarang. Banyak media-media kecil akhirnya dibeli media besar, kalau tidak terpaksa tutup. Menurut Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk Bambang Harymurti, untuk terhindar dari dua pilihan itu, media-media kecil harusnya berkolaborasi.

Kekuatan media yang berkolaborasi tentu lebih besar jika dibandingkan hanya sendiri dalam mengelola konten dan bisnis. Dalam hal konten, media-media kecil bisa saling mengisi tergantung fokus isu masing-masing media. Atau melakukan kolaborasi liputan seperti yang dilakukan 107 organisasi pers dari 80 negara untuk sebuah karya investigasi Panama Papers. Hasilnya liputan berdampak, bermutu dan efisien.

Dalam hal bisnis, sudah saatnya membentuk koperasi media yang sifatnya nirlaba dimana pemiliknya adalah media-media yang menjadi anggota. Hal ini sudah lama dipraktikan kantor berita Amerika Serikat, Asosiated Press (AP). AP menjadi langganan banyak media di luar AS, dan mereka dibayar untuk setiap konten.

Setiap keuntungan yang diperoleh dari koperasi diutamakan terhadap pengembangan kualitas anggota sehingga setiap jurnalis AP tetap punya standar tinggi dan kemampuan merata.

“Ini pilihannya seperti mau menjadi small fish in the big pond atau big fish in the small pond. Tapi kalau mau di big pond, media kecil keroyokan aja, seperti semut melawan gajah,” kata Bambang.

Kualitas

Pengiklan tidak selalu mengandalkan tingginya jumlah klik atau share untuk memasang iklan. Pengiklan juga melihat kualitas dari sebuah media agar iklan yang ditayangkan lebih tepat sasaran.

Menurut Direktur Media Nielsen Indonesia Adwin Wibisono, pers sangat berpeluang meningkatkan bisnisnya di tengah gelombang hoax. Masyarakat akan mencari berita yang terpercaya dan itu bisa dihadirkan lewat berita yang bervariasi dan bertanggung jawab.

“Kunci dari keberhasilan media, termasuk menarik kesetiaan pembaca dan pemasang iklan adalah kualitas konten,” kata Adwin.

Media kecil sangat berpeluang berkembang karena pengiklan tak jarang menyasar media yang memiliki segmentasi pembaca yang fokus. Nielsen Indonesia juga berencana untuk memperluas riset terhadap media-media kecil tersebut.

“Jadi misalnya bagi media cetak yang jumlah pembacanya terbatas, tidak perlu berkecil hati. Jumlah yang kecil bukan berarti media itu lemah, tapi sebaliknya itu dapat menunjukkan bahwa media itu fokus,” ujar Adwin.

Bambang menambahkan berita sensasional dalam waktu singkat bisa dibaca banyak orang, namun setelahnya berita itu akan hilang. Berbeda dengan berita berkualitas yang biasanya diawal terbit pembacanya sedikit namun lama kelamaan akan bertambah.

Saat ini, dalam pertemuan sejumlah media muncul usulan mengubah penghitungan iklan online yang awalnya berdasarkan banyaknya pengunjung menjadi lamanya pengunjung bertahan di satu berita. Apabila ini berhasil diubah, Bambang menilai media pasti akan mengubah caranya dalam menghadirkan berita berkualitas. [Debora Blandina Sinambela]

Categories: Berita