Ia hanya ingin disebut sebagai John Doe. Kiprahnya membocorkan Panama Papers telah mengguncang dunia. Dalihnya mengungkap skandal keuangan terbesar sepanjang sejarah ini sederhana: ketidakadilan pendapatan “satu isu penting pada zaman kita”.

Seorang peniup peluit tanpa nama di balik Panama Papers menawarkan dokumen tersebut kepada otoritas pemerintah.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan kepada koran Jerman Süddeutsche Zeitung dan International Consortium of Investigative Journalists, orang yang menamakan diri sebagai “John Doe” di balik kebocoran informasi terbesar dalam sejarah menyebutkan perlunya perlindungan yang lebih baik untuk para peniup peluit dan telah mengisyaratkan lebih banyak pengungkapan lagi.

Diberi judul “The Revolution Will Be Digitised”, pernyataan 1800 kata itu memberikan alasan pembocoran tersebut, dengan mengatakan “ketidaksetaraan pendapatan adalah salah satu isu yang jelas pada zaman kita” dan mengatakan bahwa otoritas pemerintah perlu mengatasi hal ini. Berikut, pernyataan tersebut secara lengkap:

Ketidakadilan pendapatan adalah salah satu isu paling jelas pada zaman kita. Ini memengaruhi kita semua, di seluruh dunia. Perdebatan tentang percepatan yang tiba-tiba itu telah berkecamuk selama bertahun-tahun, sementara para politikus, akademikus dan aktivis sama-sama tak berdaya untuk menghentikan pertumbuhan yang terus-menerus meskipun ada pidato-pidato yang tak terhitung jumlahnya, analisis-analisis statistik, protes-protes yang tak seberapa, dan dokumentasi tak berkala. Begitupun, pertanyaan-pertanyaan yang muncul masih sama: mengapa? Dan mengapa sekarang?

Panama Papers menyediakan sebuah jawaban yang menarik untuk pertanyaan-pertanyaan ini: korupsi yang masif dan menjalar. Dan bukan sebuah kebetulan kalau jawaban ini berasal dari sebuah firma hukum. Lebih dari sekadar bagian kecil dalam mesin “manajamen kekayaan,” Mossack Fonseca menggunakan pengaruhnya untuk menulis dan membengkokkan undang-undang di seluruh dunia demi kepentingan para penjahat selama berpuluh-puluh tahun. Dalam kasus pulau Niue, firma tersebut pada dasarnya menjalankan sebuah surga pajak mulai dari awal hingga akhir. Ramón Fonseca dan Jürgen Mossack membuat kita percaya bahwa perusahaan-perusahaan cangkang mereka, yang kadang-kadang disebut “kendaraan-kendaraan dengan tujuan khusus”, persis seperti mobil. Tapi pedagang mobil bekas tidak menulis undang-undang. Dan satu-satunya “tujuan khusus” dari kendaraan-kendaraan yang mereka produksi adalah kecurangan yang terlalu sering, dalam skala yang sangat besar.

Perusahaan-perusahaan cangkang kerap dikaitkan dengan kejahatan penghindaran pajak, tapi Panama Papers menunjukkan di luar bayangan keraguan bahwa meskipun perusahaan-perusahaan cangkang secara definisi bukan ilegal, mereka biasanya melakukan serangkaian kejahatan yang serius lebih dari sekadar penghindaran pajak. Saya memutuskan untuk mengekspos Mossack Fonseca karena saya berpendapat para pendiri, karyawan dan kliennya harus menjawab peran mereka dalam kejahatan ini, baru beberapa saja dari mereka yang sudah tersorot sejauh ini. Perlu waktu bertahun-tahun, mungkin berpuluh-puluh tahun, agar seluruh tindakan kotor firma ini diketahui.

Untuk sementara ini, sebuah perdebatan global yang menggembirkan baru telah dimulai. Tidak seperti retorika santun masa lalu yang secara hati-hati menghilangkan isyarat-isyarat kejahatan oleh para elite, perdebatan ini langsung berfokus pada apa yang terjadi.

Mengenai hal itu, saya punya beberapa pemikiran.

Untuk dicatat, saya tidak sedang dan tidak pernah bekerja untuk pemerintahan atau agen intelijen mana pun, secara langsung atau sebagai kontraktor. Pandangan saya adalah seluruhnya pandangan saya, seperti juga keputusan saya untuk membagi dokumen-dokumen tersebut dengan Süddeutsche Zeitung dan International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ), bukan untuk tujuan politik tertentu, tapi hanya karena saya cukup paham soal isi dokumen-dokumen tersebut untuk menyadari skala ketidakadilan yang dipaparkan.

Narasi media yang umum sejauh ini berfokus pada skandal apa yang legal dan diperbolehkan dalam sistem ini. Apa yang diperbolehkan memang berbau skandal dan harus diubah. Tapi kita tidak boleh kehilangan pandangan dari fakta lain yang penting: firma hukum tersebut, para pendirinya, dan karyawannya secara sadar melanggar banyak sekali hukum di seluruh dunia, secara berulang-ulang. Di depan publik, mereka mengaku tidak tahu, tapi dokumen-dokumen itu menunjuk pengetahuan yang detail dan kejahatan yang disengaja. Setidaknya kita tahu bahwa Mossack secara personal bersumpah palsu di hadapan pengadilan federal di Nevada, dan kita juga tahu bahwa staf teknologi informasi mereka berusaha menutupi kebohongan-kebohongan yang mendasar itu. Oleh karena itu, mereka semua seharusnya dihukum tanpa perlakuan khusus.

Pada akhirnya, ribuan penuntutan bisa diambil dari Panama Papers, hanya jika penegak hukum bisa mengakses dan mengevaluasi dokumen-dokumen sebenarnya. ICIJ dan penerbitan rekanan mereka dengan tepat menyebutkan bahwa mereka tidak akan memberikan dokumen-dokumen itu kepada lembaga-lembaga penegakan hukum. Namun, saya akan bersedia untuk bekerja dengan penegak hukum sampai batas yang saya bisa.

Saya telah menyaksikan satu demi satu peniup peluit dan aktivis di Amerika Serikat dan Eropa yang hidupnya dihancurkan oleh kondisi-kondisi yang mereka temui setelah menyorotkan lampu ke arah kejahatan-kejahatan yang sebenarnya. Edward Snowden terdampar di Moskwa, mengasingkan diri karena keputusan pemerintahan Obama untuk mendakwanya sesuai Undang-undang Spionase. Untuk pengungkapannya tentang NSA, ia pantas mendapatkan sambutan bak pahlawan dan penghargaan yang penting, bukannya pembuangan. Bradley Birkenfeld diberi hadiah jutaan untuk informasinya menyangkut bank Swiss UBS —dan masih diganjar hukuman penjara oleh Departeman Kehakiman. Antoine Deltour saat ini diadili karena memberikan para jurnalis informasi tentang bagaimana Luxembourg menjamin perjanjian-perjanjian pajak “kesayangan” yang rahasia untuk perusahaan-perusahaan multinasional, yang secara efektif mencuri triliunan pendapatan pajak dari negara-negara tetangga. Dan masih banyak lagi contohnya.

Para peniup peluit sahih yang memaparkan kejahatan-kejahatan yang tak terbantahkan, apakah itu orang dalam atau orang luar, pantas mendapatkan kekebalan sebagai balas jasa pemerintah, titik. Hingga pemerintah-pemerintah mengodifikasi perlindungan legal untuk para peniup peluit menjadi undang-undang, lembaga-lembaga penegak hukum hanya bisa bergantung pada sumber-sumber mereka atau peliputan media secara global yang terus-menerus untuk dokumen-dokumen.

Sementara ini, saya menyerukan kepada Komisi Eropa, Parlemen Inggris, Kongres Amerika Serikat, dan seluruh negara untuk mengambil tindakan secepatnya, tidak hanya untuk melindungi para peniup peluit, tapi untuk mengakhiri pelanggaran pendaftaran korporat secara global. Di Uni Eropa, pendaftaran perusahaan setiap negara anggota harus bisa diakses dengan bebas, dengan data terperinci yang hanya tersedia untuk para pemilik manfaat utama. Inggris Raya boleh bangga dengan inisiatif domestiknya sejauh ini, tapi mereka masih memiliki peran penting dalam bermain dengan mengakhiri kerahasiaan keuangan di berbagai kawasan pulaunya, yang tanpa diragukan menjadi landasan korupsi institusional seluruh dunia. Dan Amerika Serikat jelas tidak lagi mempercayakan kelima puluh negara bagiannya untuk membuat keputusan yang tegas tentang data perusahaan mereka sendiri. Sudah saatnya bagi Kongres untuk turun tangan dan memaksakan transparansi dengan menetapkan standar-standar untuk pengungkapan dan akses publik.

Dan meskipun keberanian transparansi pemerintah pada pertemuan-pertemuan puncak adalah satu hal yang pantas dipuji, mengimplimentasikannya adalah hal lain. Sudah menjadi rahasia umum di Amerika Serikat, wakil-wakil rakyat terpilh menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengumpulkan dana. Penghindaran pajak tidak mungkin diperbaiki ketika pejabat-pejabat yang dipilih meminta-minta uang dari kaum sangat elite yang memiliki insentif paling kuat untuk menghindari pajak dibanding dengan segmen populasi lain. Praktik-praktik politik yang menjijikkan telah menjadi lingkaran setan dan tak bisa didamaikan. Reformasi sistem keuangan kampanye yang rusak tidak bisa menunggu lagi.

Tentu saja, bukan hanya itu isu yang perlu dipecahkan. Perdana Menteri John Key di Selandia Baru anehnya bungkam tentang peran negaranya dalam memungkinkan kiblat penggelapan keuangan yang ada di Cook Islands. Di Inggris, kaum Tori tak punya rasa malu soal pengungkapan praktik-praktik mereka yang melibatkan perusahaan-perusahaan di luar negeri, sementara Jennifer Shasky Calvery, direktur Financial Crimes Enforcement Network di Departemen Keuangan Amerika Serikat, baru saja mengundurkan diri dan memilih bekerja untuk HSBC, salah satu bank yang paling keji di planet ini (bukan kebetulan bermarkas di London). Dan begitulah kibasan pintu putar Amerika menggema di antara keheningan global yang memekakkan dari ribuan para pemilik manfaat yang belum diketahui yang kemungkinan sedang berdoa bahwa penggantinya juga lemah. Para pengecut politik mudah tergoda untuk menyerah pada kekalahan, berdebat bahwa status quo tetap sulit berubah, sementara Panama Papers adalah sebuah gejala mencolok dari bangunan moral masyarakat kita yang makin membusuk dan penyakitan.

Tapi isu itu akhirnya diperbincangkan, dan bahwa perubahan membutuhkan waktu bukan lagi sebuah kejutan. Selama lima puluh tahun, badan-badan eksekutif, legislatif dan yudisial di seluruh dunia gagal untuk mengatasi surga-surga pajak yang menyebar di seluruh permukaan bumi. Bahkan saat ini, Panama mengatakan mereka ingin terkenal lebih dari sekadar dokumen-dokumen, tapi pemerintahannya dengan nyaman hanya memeriksa satu dari kuda-kuda di komidi putar di luar negeri.

Bank-bank, regulator-regulator keuangan dan otoritas pajak telah gagal. Keputusan-keputusan telah dibuat untuk menyelamatkan kaum kaya dan malah mengekang warga yang berpendapatan menengah ke bawah.

Sayangnya, pengadilan-pengadilan yang lamban dan tidak efisien telah gagal. Para hakim terlalu sering menyerah pada argumen-argumen orang kaya, yang para pengacaranya –dan bukan hanya Mossack Fonseca—terlatih dengan baik dalam menghormati kode hukum, meskipun secara terus-menerus dengan kekuasaan melakukan apa pun untuk menodai semangatnya.

Media telah gagal. Banyak jaringan berita menjadi parodi kartun diri mereka yang sebelumnya, para miliarder sepertinya mengambil kepemilikan koran sebagai sebuah hobi, membatasi peliputan masalah-masalah serius mengenai orang-orang kaya, dan para wartawan investigasi yang sering kekurangan dana. Dampaknya nyata: selain Süddeutsche Zeitung dan ICIJ, dan meskipun mengklaim sebaliknya, beberapa media besar telah menyuruh para redakturnya meninjau dokumen-dokumen dari Panama Papers. Mereka memilih untuk tidak meliputnya. Kebenaran yang menyedihkan adalah di antara lembaga media terkemuka dan cakap di dunia tidak satu pun yang tertarik dalam memberitakan cerita ini. Bahkan Wikileaks berulang-ulang tidak menjawab telepon.

Tapi yang utama dari segalanya, profesi legal telah gagal. Tata kelola pemerintahan yang demokratis bergantung pada individu-individu yang bertanggung jawab dalam sistem keseluruhan yang memahami dan menegakkan hukum, bukan yang memahami dan mengeksploitasinya. Rata-rata, para pengacara menjadi begitu korup sehingga perubahan besar dalam profesi ini harus dilakukan, melampaui proposal-proposal halus yang sedang dinegosiasikan. Sebagai awal, istilah “etika legal,” di atas pedoman perilaku dan lisensi yang hanya berdasarkan nama, telah menjadi oksimoron. Mossack Fonseca tidak bekerja dalam sebuah ruang hampa — meskipun didenda berkali-kali dan melanggar regulasi, mereka menemukan sekutu dan klien di firma-firma hukum besar di setiap negara. Jika ekonomi industri yang berantakan ini belum menjadi bukti yang cukup, tidak ada yang membantah bahwa para pengacara tidak lagi diizinkan untuk saling mengatur. Mereka yang mampu membayar paling banyak selalu bisa menemukan seorang pengacara yang melayani tujuan mereka, apakah pengacara itu ada di Mossack Fonseca atau firma lain yang belum kita ketahui. Bagaimana dengan masyarakat lainnya?

Dampak kolektif dari kegagalan ini telah menjadi pengikisan standar-standar etis yang lengkap, pada akhirnya mengarah pada sebuah sistem baru yang masih kita sebut Kapitalisme, tapi sama dengan perbudakan secara ekonomi. Dalam sistem ini — sistem kita — budak-budak tidak menyadari baik status maupun majikan mereka, yang ada di sebuah dunia terpisah di mana borgol-borgol tak berwujud dengan hati-hati disembunyikan di antara sejumlah besar bahasa hukum yang tak bisa dipahami.

Dahsyatnya kerugian bagi dunia seharusnya membangunkan kita semua. Tapi ketika membutuhkan seorang peniup peluit untuk membunyikan alarm, hal itu justru memunculkan kekhawatiran yang lebih besar. Ini menandakan bahwa “checks and balances” demokrasi telah gagal dan bahwa kegagalan itu sistemik, dan bahwa ketidakstabilan yang parah akan terjadi tak lama lagi. Jadi kini saatnya untuk tindakan nyata, dan itu dimulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Para sejarawan dengan mudah menuturkan kembali bagaimana isu-isu yang melibatkan pajak dan ketidakadilan kekuasaan telah memicu revolusi-revolusi di masa lalu. Kemudian, keperkasaan militer perlu untuk menaklukkan rakyat, tapi sekarang, akses informasi yang dibatasi sama efektifnya, karena tindakan kerap tidak terlihat. Namun, kita hidup di masa penyimpanan digital tanpa batas dan murah dan koneksi internet yang cepat yang melampaui batas-batas negara. Tidak perlu waktu lama untuk menghubungkan titik-titik: dari awal hingga akhir, lahirnya distribusi media global, revolusi selanjutnya akan didigitalkan.

Atau mungkin malah telah dimulai.

Sumber: amabhungane.co.za

Categories: Berita