Sekitar 400 jurnalis dari 76 negara diajak bergabung oleh International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) untuk menganalisis Panama Papers. Mereka mesti menelisik email-email, faksimili, dokumen-dokumen pendaftaran perusahaan, neraca keuangan, salinan paspor, catatan-catatan pemegang saham dan sebagainya. Tidak tanggung-tanggung, besaran data tersebut mencapai 2,6 terabita yang tersimpan rapih di sebuah mesin pencari mirip Google. Mesin ini dikembangkan oleh ICIJ yang berkantor di Washington khusus untuk proyek Panama Papers.

Ini bukan pekerjaan mudah, bahkan bagi wartawan-wartawan di negara-negara yang menjamin kebebasan informasi publik, apalagi untuk wartawan-wartawan di negara yang masih melindungi data-data personal, seperti Jepang. Tiga wartawan, Scilla Alecci (wartawan lepas), reporter Asahi Shimbun Toshihiro Okuyama dan reporter Kyodo News Yasuomi Sawa, menuturkan bagaimana sulitnya kerja mereka, dalam sebuah simposium di Universitas Waseda, Tokyo, Jepang, awal Juni lalu.

“Meskipun nama-nama dan alamat-alamat dari subjek investigasi telah dirilis ke publik secara daring, hanya kamilah orang-orang di Jepang yang memiliki akses langsung ke Panama Papers,” kata Okuyama. Ini memberi mereka “kewajiban moral” untuk membagi temuan-temuan kepada publik.

Namun, ketiganya sepakat investigasi untuk Panama Papers ini menguras tenaga. Sebelum bisa masuk ke mesin pencari, mereka harus melewati banyak tahapan otentikasi, kata Alecci, seorang Italia yang belajar jurnalistik di Waseda.

Lalu, prosedur pencarian dimulai hanya dengan mengetik kata kunci, seperti nama-nama Jepang yang tipikal, tempat-tempat dan perusahaan-perusahaan yang terkenal ke dalam mesin pencari untuk menyempitkan data pada apa pun yang bisa dikaitkan ke Jepang.

“Kombinasi ‘Jepang’ dan ‘PEP’ (Politically Exposed Person), sebuah kata kode yang digunakan dalam Mossack Fonseca, juga digunakan dalam mesin pencari untuk memperoleh petunjuk,” kata Alecci.

Ketika nama-nama orang-orang pada dokumen-dokumen itu ditulis dalam romaji, bentuk huruf Roman dari kata-kata Jepang, para wartawan tersebut harus mengeceknya secara cermat dan membandingkannya dengan dokumen-dokumen resmi.

Setelah penyempitan awal, mereka menganalisis dokumen-dokumen tersebut satu demi satu untuk menemukan petunjuk-petunjuk dan pola-pola aksi baru hingga mereka bisa mengumpulkan data-data yang cukup dalam membangun kasus untuk mewawancara subjek-subjek investigasi.

Revolusioner

Hingga embargo ICIJ tentang publikasi artikel itu dicabut pada 4 April lalu, para wartawan bertukar email yang dikodekan untuk mencegah kebocoran. Perangkat khusus yang disebut Oxwall, dengan fungsi serupa yang ada di Facebook, dikembangkan agar para wartawan bisa berbagi temuan dan bertukar ide tentang bagaimana mewawancara subjek tanpa memunculkan kecurigaan dari target mereka.

“Cara itu cukup revolusioner,” kata Sawa, yang mengacu pada penggunaan teknologi-teknologi terbaru sepanjang proyek investigasi itu.

Akhirnya, sekitar 400 individu dan perusahaan-perusahaan Jepang, termasuk firma-firma dagang terkemuka Marubeni Corp. Dan Itochu Corp., ditemukan terdaftar sebagai pemegang saham atau direktur dari sekurangnya 270 entitas di surga pajak luar negeri.

“Informasi personal sangat dilindungi sehingga sulit untuk memperoleh informasi tentang nama-nama dan alamat-alamat,” kata Sawa menyebut hambatan khusus di Jepang yang ia temui dalam melacak dokumen tersebut. “Kami menemui jalan buntu selama investigasi karena sulit memverifikasi petunjuk-petunjuk dengan dokumen-dokumen resmi.”

Menurut undang-undang Jepang, pemerintah diizinkan untuk tidak memberikan informasi perusahaan yang mereka miliki jika dengan mengungkapnya berarti merugikan sebuah perusahaan secara kompetitif.

Dokumen-dokumen pengadilan dan catatan-catatan kriminal, alat dasar jurnalisme investigasi, yang dibuka untuk publik di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Inggris, dalam banyak situasi tidak tersedia di Jepang.

Proyek tersebut juga tidak lazim karena melibatkan kerja sama antara Asahi Shimbun dan Kyodo News, dua penerbitan yang biasanya bersaing.

Sawa bercanda bahwa ia tidak pernah berpikir akan berbagi informasi atau bertukar catatan dengan media lain, apalagi dengan Asahi. Ia menambahkan, pengalaman itu memberinya perspektif berbeda tentang kompetisi dan kerja sama.

Faktor spesifik lain yang menghambat para wartawan Jepang untuk terlibat dalam jurnalisme investigasi adalah pekerjaan seumur hidup yang masih ditawarkan banyak perusahaan. Menurut Sawa, mungkin ini yang membuat para wartawan tidak ingin bekerja keras untuk mendapatkan berita bagus, meskipun di negara lain ini bisa menjadi peningkatan karier.

“Tidak mengejutkan jika ada wartawan yang ingin menghindari tindakan apa pun yang bisa membuat mereka bermasalah sehingga mereka bisa bekerja di perusahaan media yang sama untuk waktu yang lama, ketimbang menulis berita-berita yang mungkin memicu kontroversi,” katanya. (*)

Sumber:
“Japan journalists who worked on Panama Papers reveal how they probed data” dimuat di Japan Times.co.jp, 14 Juni 2016.

Categories: Berita