Kehadiran media sosial memberi dampak sangat besar bagi kerja jurnalistik. Berikut lima cara medsos mengubah jurnalisme di era digital ini:

Jangkauan: media sosial menawarkan jurnalisme lapangan bermain secara global yang potensial. Platform ini bisa digunakan untuk menyebarkan berita, juga untuk mengumpulkan informasi dan memungkinkan kisah-kisah penting setempat disebar menembus batas-batas geografis. Apakah itu pemberontakan Arab Spring atau badai yang terjadi di Haiti, para wartawan bisa mendapatkan narasumber dan membagi cerita mereka ke seluruh dunia.

Partisiapsi: media sosial menyediakan banyak jejaring yang memungkinkan partisipasi dan interaksi audiens. Platform ini menyediakan ruang bagi audiens untuk berkomentar, dan interaksi seperti ini bisa membawa cerita lebih jauh.

Laporan Hiperlokal: media sosial mengisi jurang dalam pelaporan hiperlokal. Dalam kajian terbaru, ada kelompok komunitas, termasuk polisi lokal di Broadmeadows, menggunakan media sosial untuk menyediakan berita-berita lokal. Cara ini mengisi lubang pemberitaan yang ditinggalkan redaksi yang makin mengecil di koran-koran lokal.

Biaya Murah: media sosial adalah cara yang cepat dan murah untuk menemukan, memproduksi dan membagi berita. Cara ini menciutkan halangan-halangan bagi media-media berita dan jurnalis lepas.

Independensi: para jurnalis bisa memintas media yang dikuasai negara dan batasan-batasan lain dalam menerbitkan cerita mereka. Mereka bisa melaporkan secara independen tanpa interfensi redaksi, menggunakan publisitas untuk perlindungan diri.

Tentu saja, kebangkitan teknologi-teknologi media mematahkan model bisnis media tradisional ketika iklan-iklan berpindah ke online, menyebabkan kehilangan pendapatan. Pada gilirannya, ini memicu pemangkasan jumlah pekerja besar-besaran di ruang redaksi dan penutupan surat kabar.

Namun, dengan segala pesimisme yang menular tentang masa depan surat kabar dan aspek negatif medsos, masih ada kebaikan yang bisa dimanfaatkan. Perangkat-perangkat digital mengubah cara jurnalis menemukan, menuturkan dan membagi cerita-cerita mereka kepada audiens di luar kontrol batas-batas negara.

Pada waktu yang bersamaan, teknologi-teknologi baru memungkinkan para jurnalis melakukan apa yang selalu mereka kerjakan: mengungkap cerita-cerita demi kepentingan publik. (*)

 

Sumber:
“How investigative journalists are using social media to uncover the truth”, diterbitkan di laman The Conversation, 18 Oktober 2016.

Categories: Berita