Dulu, tak pernah terpikir sebuah cerita hasil investigasi jurnalistik bisa dibaca dalam bentuk kotak-kotak bergambar. Sebuah hasil investigasi biasa dituturkan dalam berlembar-lembar halaman majalah dengan banyak kata dan sedikit gambar.

Kini, yang tak pernah terlintas di benak itu sudah terjadi. Reveal dari The Center for Investigative Reporting telah memulainya. Agustus lalu, mereka mengunggah 21 gambar Instagram yang bercerita tentang hukum peradilan di Amerika Serikat yang kerap mengabaikan hak orang-orang yang tak bersalah.

“Bad Plea Deals” adalah proyek pertama media nirlaba yang berbasis di California, yang dibuat khusus untuk instagram. Serial investigasi ini ditayangkan tiga kali sehari selama tujuh hari.

Meskipun ini proyek instagram pertama Reveal, bukan pertama kali mereka bereksperimen dengan penuturan cerita yang tidak tradisional. Mereka memaparkan berita melalui jurnalisme grafik dan bahkan di panggung dalam komunitas yang terdampak dengan investigasi mereka.

Ide-ide gila untuk bereksperimen dengan bentuk-bentuk penuturan selalu mendapatkan ruang di Reveal. “Saya sering mengatakan tidak. Bohong jika saya tidak mengatakannya,” kata Amy Pyle, pemimpin redaksi CIR dan Reveal. “Tapi saya berusaha untuk lebih sering mengatakan mungkin sehingga setidaknya kita bisa turun ke jalan dan mengeksplorasi ide tersebut.”

Kisah-kisah Orang Tak Bersalah

Bad Plea Deals” adalah kisah hasil penelusuran Antoine Godet. Selama pekan pertamanya sebagai mahasiswa pascasarjana di Columbia University Graduate School of Journalism, para dosen Antoine Goldet membawa kelasnya ke New York Criminal Court di Lower Manhattan untuk melihat bagaimana sistem peradilan berjalan.

“Duduk di sebuah ruang pengadilan dakwaan, saya terkesima melihat begitu banyak orang yang siap menyerahkan hak mereka untuk sebuah pengadilan dengan mengaku bersalah,” kata Goldet, yang berasal dari Prancis, via email kepada Poynter. “Lima belas orang dipanggil, tuduhan untuk mereka dibacakan, dan mereka semua mengaku bersalah. Bagi saya yang datang dari Eropa, ini gila. Saya tahu bahwa ini pasti sebuah sistem yang penuh dengan kisah-kisah orang tak bersalah dan memutuskan untuk mengerjakan proyek master saya tentang rasa percaya yang berlebihan terhadap tawar-menawar permohonan di Amerika.”

Goldet mengirim karya jurnalistiknya itu ke Reveal. Pyle dalam introduksinya untuk serial “Bad Plea Deals” mengatakan “Sepertinya tak mungkin bagi kami untuk menerimanya–Antoine Goldet baru lulus dan, lagi pula, ia orang Prancis. Apakah ia bisa melaporkannya secara mendalam? Apakah ia bisa menulis dengan baik dalam bahasa Inggris? Begitu banyak pertanyaan.” tulis Pyle.

Namun, topik yang diajukan Goldet sungguh menarik. “Topik itu adalah salah satu yang kami peduli: kesepakatan pembelaan, solusi tak adil kami untuk menyelesaikan acara pengadilan selama bertahun-tahun dengan bersikap keras pada kejahatan. Dan Goldet membawa ke hadapan kami kejutan yang menarik pada setiap tabuhan liputan, menggambarkan langkah demi langkah masuk ke dalam kehidupan seorang pria yang berusaha untuk menarik pembelaan bersalahnya terhadap sebuah kejahatan yang tidak ia lakukan,” kata Pyle.

Reveal akhirnya memilih platform baru, cara yang selama ini belum pernah terpikirkan, untuk menuangkan penelusuran Goldet, yaitu dengan Instagram. “Satu gambar untuk setiap tahun dimulai ketika Rodney Roberts didakwa pada 1996,” kata Pyle.

Pada tahun itu, 92 persen dakwaan di pengadilan kriminal Essex County, New Jersey, diselesaikan dengan kesepakatan permohonan, dan dakwaan Roberts ada di antaranya.

Penuturan lewas Media Sosial

Ketika pertama kali mendengar ide untuk mengungkapkan investigasinya dalam Instagram, Goldet menganggap ini adalah ide yang bagus. Meskipun, lebih penting lagi baginya cerita itu memiliki tempat di situs Reveal. Kini setelah melihat ilustrasi-ilustrasi untuk Instagram, ia jauh lebih bergairah untuk melihat ke mana arahnya, bukan cuma bahwa tulisannya dimuat.

“Saya rasa penting untuk menemui pembaca-pembaca muda di tempat mereka berada,” kata Goldet. “Para jurnalis investigatif seharusnya berusaha belajar bekerja dengan media sosial, bukan mengabaikan dan meninggalkannya untuk “konten bersponsor” dan jurnalisme berkualitas buruk. Juga, saya yakin bahwa batas panjang ruang dalam teks di Instagram, yang semula menjadi tantangan, bisa membantu kita membagi karya investigasi yang panjagn menjadi bab demi bab.”

Byard Duncan, manajer komunitas Reveal, mempertimbangkan proyek ini sebagai sebuah eksperimen dalam penuturan cerita yang mengutamakan publik, serupa artikel-artikel instan Facebook.

“Instagram adalah sebuah jejaring di mana kita melihat tingkat pertumbuhan yang cepat saat ini, jadi masuk akal untuk mencoba an mendorong batas-batas yang bisa dilakukan di sana,” katanya. “Ada banyak halangan-halangan, tentu saja: Platform memiliki batas karakter yang ketat, jadi kami harus mengedit cerita menjadi bab-bab pendek yang berdampak. Dan analitik Instagram sangat terbatas (kita tidak bisa melihat waktu di halaman, dsb), jadi kami mempertimbangkan pertumbuhan follower, yang bisa kami lacak, untuk menjadi ukuran sukses utama kami.”

“Tujuan akhir kami sebenarnya bukan inovasi,” kata Pyle, “tujuan utama kami adalah dampak.” Dan jika cara-cara baru yang inovatif dalam menuturkan kisah bisa menjangkau lebih banyak orang, patutlah untuk dicoba.

Harus Bisa

Reveal mengukur dampak dalam sejumlah cara yang berbeda, bergantung pada investigasi. Kadang-kadang, investigasi-investigasi langsung mengarah pada aksi dan legislasi. “Bad Plea Deals” berpotensi menjadi bagian percakapan yang lebih besar tentang kesepakatan permohonan di Amerika Serikat.

Menerbitkan sebuah investigasi di Instagram memberikan Reveal peluang untuk menjangkau audiens baru di sebuah tempat baru. Meskipun proyek tersebut akhirnya ditayangkan di Revealnews.org, persoalannya bukan cuma klik, kata Pyle. “Apa yang berusaha kami lakukan pada titik ini adalah berpikir tentang pembaca dengan cara yang lebih luas dan mengembangkan seluruh pembaca dengan harapan ada ‘penyerbukan silang’.”

“Jika kami memiliki kapasitas, kami hanya bisa bilang lanjutkan,” tutur Pyle. “Saya punya teori ini sekarang: Jika kami tidak bisa bereksperimen, siapa yang bisa?” (*)

Sumber:
“How CIR created an investigative series just for Instagram” diterbitkan di Poynter.org, 22 Agustus 2016.
“Bad plea deals are no bargain: A serialized Instagram investigation” diterbitkan di Revealnews.org, 22 Agustus 2016

Categories: Berita