Cobalah berlama-lama membaca satu kiriman di beranda (news feed) akun facebook. Berikan like atau komentar, dan beberapa hari setelahnya kiriman dari akun-akun yang kita baca, sukai dan komentari itu selalu muncul di beranda kita.

Facebook mengumpulkan dan menganalisis riwayat penjelajajahan media sosial. Dari semua informasi seperti riwayat klik, suka, komentar, pencarian, teman-teman, lokasi, hingga pandangan politik akan dicatat dan digunakan untuk memutuskan informasi yang muncul dan tidak muncul di beranda kita. Upaya penyaringan ini dilakukan lewat algoritma.

Penyaringan ini memang memudahkan kita memilih di antara jutaan informasi yang muncul dalam media sosial. Informasi yang kita lihat hanya informasi yang dianggap sesuai dengan minat kita. Ini juga yang membuat tampilan beranda setiap orang berbeda-beda.

Bagi Wakil Presiden Facebook Adam Mosseri, algoritma facebook berhasil membantu pengguna menemukan cerita-cerita terbaik yang bisa dibawa pulang, dibagikan dan dibicarakan dengan keluarga.

“Kemungkinan Anda akan mengomentari cerita ini, bagikan cerita ini, berapa banyak waktu yang Anda habiskan untuk membaca cerita ini, apakah Anda akan mengatakan cerita ini informatif – berapa besar kemungkinan itu?” katanya dalam konferensi F8 Developer Facebook April 2017 lalu, dikutip dari socialmediatoday.com

Namun upaya menyaring informasi yang dilakukan facebook menggunakan algoritma yang memunculkan informasi hasil prediksi mereka berdampak lain. Aktivis Internet Eli Pariser menyebut ini sebagai Filter Bubble Efect yang mengisolasi pengguna media sosial.

Agoritma menciptakan gelembung tidak terlihat yang memisahkan kita dari sudut pandang yang berlawanan dengan kita. Sehingga kita terisolasi secara intelektual, hanya mendapat informasi dari pihak yang sepemahaman dengan kita. Situs yang dibagikan cenderung berisi informasi yang menyenangkan kita dan mengonfirmasi kepercayaan kita.

Jauh lebih penting, kritik Eli adalah tidak ada yang tahu seperti apa proses cara kerja algoritma untuk memutuskan informasi apa yang masuk dan terbuang dari facebook kita. Apakah mereka menerapkan standar etika dan bebas dari bias. Cara kerja algoritma facebook tak ubah seperti kotak hitam.

“Kita sangat membutuhkan Internet untuk menjadi sesuatu yang kita impikan. Kita membutuhkannya untuk menghubungkan kita semua. Kita membutuhkannya untuk memperkenalkan kita kepada pemikiran baru dan orang-orang baru dan perspektif berbeda. Dan itu tidak akan terjadi jika kita menjadi terisolasi di satu web,” katanya ketika memberikan presentasi lewat dalam tayangan TED, Maret 2011 lalu.

Kebencian Tersebar Luas

Facebook tidak hanya memprediksi kesukaan kita, tetapi turut menyajikan konten yang memiliki daya tarik emosional. Kita tidak akan pernah melewatkan informasi seperti pernikahan, pekerjaan baru, kesempatan sekolah, dan informasi lain yang sifatnya membagikan kebahagiaan. Celakanya, facebook juga berlaku sama terhadap konten yang berisi emosi negatif seperti kekhawatiran, kecemasan dan mendorong kebencian.

Sosiolog dari Universitas Indonedia Geger Riyanto berpendapat hal ini yang membuat media sosial sangat efektif menyebar kebencian. Segala upaya yang dilakukan facebook tujuannya dibangun dengan logika bisnis: mempertahakankan lalu lintas kunjungan.

“Ketakutan utama facebook bukan pada tuduhan mereka tidak beretika, tetapi bagaimana mempertahankan jumlah pengunjung dengan banyaknya saingan,” kata Geger kepada JARING pertengahan Agustus 2017.

Facebook menghabiskan investasi besar dan waktu sepuluh tahun agar bisa seperti sekarang. Sekarang, konten yang kita bagikan sangat cepat mendapat tanggapan karena akan langsung ditampilkan ke jaringan yang punya preferensi sama.

Prinsip sama juga diterapkan Twitter dengan cara yang berbeda. Geger melakukan penelitian terhadap anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang aktif di twitter. Hasil penelitiannya menemukan tweet paling populer adalah tweet yang sifatnya menyerukan kemarahan, pembelaan dari musuh, kecurangan dan “kezaliman” yang dilakukan musuh.

“Sistem yang diterapkan twitter mendukung ujaran-ujaran kuat berada pada cuitan yang paling populer karena sistemnya retweet. Semakin orang retweet akan semakin tersebar. Ini memberi kuasa kepada setiap orang untuk menentukan informasi mana yang kamu suka ya kamu sebarin,” katanya.

Sementara media massa yang dulunya pelaku agenda setting berubah menjadi penyuplai informasi-informasi yang mendukung ujaran kebencian. Berita disesuaikan agar cepat mendapat like, retweet dan komen dari pengguna media sosial.

“Saya nggak percaya kalau dibilang sosial media hanya teknologi atau medium, tapi alat yang mentrasformasi pesan itu sendri, jadi agensi,” kata Geger. [Debora Sinambela]

Categories: Berita