Emas Hitam dari Pulau Seberang (1): Jateng yang Gemerlap SEMARANG adalah kota yang semarak. Kehidupan warga di jantung Jateng ini berdenyut sepanjang hari, siang maupun malam. Hotel, pusat perbelanjaan, restoran dan berbagai tempat hiburan tak pernah sepi dari pengunjung.

Habis terang terbitlah terang, tidak ada kata gelap. Lampu dan papan reklame yang menyala-nyala senantiasa menyambut mereka yang berlalu-lalang di jalanan. Cahaya artifisial ini tidak sekadar untuk memenuhi kebutuhan penerangan, tapi juga telah menjadi ikon masyarakat urban.

Bagi kalangan pemilik tempat hiburan maupun pengusaha perhotelan, lampu adalah wajah aktivitas usaha mereka. Tanpa tata cahaya yang indah, arsitektur yang mereka desain sedemikian rupa tak akan berarti apa-apa. Marketing Communication Hotel Gumaya, Yulistra Ivo, tidak menggeleng ketika diajak berbincang demikian. Pencahayaan memang mampu menyempurnakan dekorasi ruangan agar semakin indah serta memberikan aneka nuansa romantik, glamor dan sebagainya.

“Saat ini, pencahayaan yang sedang nge-tren berkonsep general lighting. Tren pencahayaan ini menempatkan banyak lampu di dalam satu ruangan,” kata Ivo.

Penggunaan lampu dengan general lighting ini sudah menjadi tuntutan gaya hidup sejak tiga tahun terakhir. Bahkan pihak hotel bintang lima itu rela merogoh kocek lebih demi merombak tata lampu, dari yang semula menggunakan konsep spot–satu lampu satu ruangan–menjadi general lighting.

“Daya listrik yang terpasang di hotel ini sampai 2.500 kVA. Tapi itu tidak menjadi persoalan asalkan tata cahaya kami indah. Biaya besar yang kami keluarkan akan terbayar dengan kepuasan pengunjung, ” kata Ivo.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jateng, Heru Isnawan, dengan bangga menyebutkan jumlah hotel di wilayahnya. Sedikitnya ada 120 hotel berbintang dan seribuan hotel nonbintang. Tak ada masalah dengan konsumsi listrik besar-besaran, karena pasokan listrik lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan industri perhotelan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng, Frans Kongi, tak merisaukan ketersediaan listrik. Sejauh ini, jarang ada pemadaman listrik di Semarang yang membuat proses produksi industri terganggu.

“Karena pasokan listrik di Jateng surplus. Kelebihan ini tentu menguntungkan bagi industri,” katanya.

Itulah mengapa para investor berbondong-bondong menanamkan modalnya di Jateng. Listrik pun menjadi lokomotif yang ikut menentukan maju mundurnya pergerakan modal. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, hingga akhir April 2016, sebanyak 31 proyek dengan nilai Rp 55,5 triliun telah memanfaatkan fasilitas Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK). Proyek itu menjangkau kawasan industri di beberapa provinsi.

Jateng terbukti menjadi primadona. Sejumlah perusahaan besar yang berbasis di Jabodetabek maupun Jabar, terutama industri manufaktur, mulai melakukan ekspansi atau relokasi ke Jateng. “Investor tidak akan berani menanamkan modal tanpa ada jaminan pemenuhan kebutuhan listrik mereka,” ungkap Frans.

Lantas, bagaimana ketersediaan listrik di kalangan rumah tangga? Manisnya terasa sama dengan dunia industri. Kemudahan masyarakat Jateng menikmati sambungan setrum negara bisa dilihat di wilayah perbatasan antarkota, yang acapkali dipinggirkan pemerintah daerah. Kelurahan Podorejo Kecamatan Ngaliyan, Semarang, adalah contohnya. Tujuh puluh persen lebih permukiman warga di daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Kendal ini tidak lagi kesulitan mengatur biaya pengeluaran listrik. Sebab mereka sudah menggunakan meteran listrik prabayar atau pulsa, sehingga penggunaannya bisa diatur sendiri.

Arum Yuliati (55), salah seorang warga Perumnas Palir di Kelurahan Podorejo mengatakan, selain pemasangan sambungan baru, layanan tambah daya kini sangat mudah. Untuk tambah daya dari dari 450 VA menjadi 900 VA, pelanggan cukup datang dan bayar sejumlah biaya ke kantor pos. Selang beberapa hari petugas PLN datang ke rumah pemohon. ‘’Setelah tambah daya, meteran listrik diganti dengan token pulsa. Pemakaian listrik kini lebih terkontrol,’’ kata ibu tiga anak ini.

Manager Area PLN Semarang, Doddy Adriansyah, mengamini dengan semringah. Pendaftaran sambungan baru tidak perlu perantara karena bisa dilakukan secara online atau melalui sambungan call center. Bila tidak ada penambahan jaringan, lima hari kerja–terhitung sejak pendaftaran– listrik sudah bisa menyala.

‘’Sambungan baru dengan daya sampai 2.200 VA biayanya sebesar Rp 937/VA atau sekitar Rp 2 jutaan. Lain lagi kalau untuk bisnis dan perhotelan, daya di atas 2.200 VA tarifnya Rp 969/VA,’’ jelas Doddy.

Manajer Distribusi PLN Wilayah Jateng dan DIY, Andreas Heru Sumaryanto, menjamin hampir 100% daerah di Jateng teraliri listrik. ‘’Yang belum teraliri listrik, lingkupnya bukan lagi desa, melainkan dusun atau kampung. Itu pun lokasinya di pegunungan,’’ katanya.

(Bersambung) (Hartatik / CN26 / SM Network)