TEMPO.CO, Temanggung – Penyintas perdagangan manusia punya segudang pengalaman pahit. Memey Rochtriyati, penyintas itu, kini menjadi pegiat HIV/AIDS. Ia mampu beranjak dari keterpurukan setelah menjadi korban perdagangan manusia. Dua kali dia dieksploitasi. Ia buruh migran yang dipaksa menjadi pekerja seks di Kuching, Malaysia pada 2012. Dia direkrut seorang calo asal Magelang.

Calo memanfaatkan keluguan Memey yang hanya lulusan sekolah dasar. Tahun 2011, Memey yang berumur 17 tahun mengadu nasib ke Singapura. Paspor dan dokumen lainnya dipalsukan calo. “Umur dituakan itu praktik yang biasa terjadi di desa-desa,” kata Memey kepada Tempo pada pekan pertama Oktober 2016.

Bujuk rayu dan iming-iming menggiurkan masih terus berlangsung di Kabupaten Temanggung. Calo mendatangi calon buruh migran yang punya impian ke luar negeri untuk membiayai hidup keluarganya. Hampir dua tahun Memey bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Singapura dan tidak digaji. Ia berganti-ganti majikan lalu dipulangkan oleh agen Penyalur Jasa Tenaga Kerja Indonesia. Tapi, Memey tak ingat nama agen PJTKI itu. Dia hanya diberi uang saku Rp 500 ribu untuk pulang ke Indonesia.

Ia menuturkan calo buruh migran berkeliaran, memberikan iming-iming hidup enak dengan merantau ke negeri orang. Seorang calo penjual ikan asin di Pasar Secang menawari Memey berangkat ke Singapura dan Kuching, Malaysia. Umur Memey 17 tahun sewaktu berangkat ke Singapura. Ia tak punya keterampilan.

Menurut Memey, Pasar Secang di Magelang menjadi lokasi berkumpulnya para calo buruh migran. Di sana, mereka bekerja membujuk korban-korban yang sedang kesulitan uang dan punya mimpi mengatasi kemiskinan dengan cara menjadi buruh migran. Sedangkan seorang perekrut yang membawanya ke Entikong, kata Memey, telah dipenjara di Entikong dan ditebus oleh sindikatnya.

Sri, perekrut asal Magelang bertugas mengantar dan membayar ongkos tiket kapal laut Memey dari Pelabuhan Tanjung Mas Semarang menuju Entikong, tempat transit Memey sebelum ke Khucing. Di Kuching, Memey dan perempuan lainnya ditempatkan di apartemen di pusat kota. Apartemen itu menurut Memey gampang dijangkau dan dekat dengan kedai kopi.

Pemilik apartemen itu yang adalah mafia perdagangan manusia memiliki banyak apartemen. Bos besar dengan logat Melayu itu menempatkan empat hingga enam penjaga dan mobil untuk menjemput korban trafficking di setiap apartemen. Korban dipaksa untuk menjadi pekerja seks. “Kami diawasi ketat dan tak boleh ke luar apartemen,” kata Memey.

Ia mengatakan jaringan trafficking itu mendandani korban dengan membelikan baju dan segala perlengkapan di pusat perbelanjaan. Lalu mereka dibawa ke salon. Setelah itu, korban dibawa menuju restoran untuk diperkenalkan dengan laki-laki yang membayar sejumlah uang kepada bos besar. Bos besar inilah yang menjadi muncikari. Memey tak ingat persis nama bos besar ini. Ia hanya ingat di tubuh bos besar itu banyak terdapat luka bakar. Memey dipaksa untuk berhubungan badan dengan bos besar itu.

Tiga kali korban perdagangan manusia

Jumiyem, perempuan yang tinggal di Magelang, Jawa Tengah juga mengalami eksploitasi dan pelecehan seksual selama menjadi buruh migran. Ia tiga kali menjadi korban perdagangan manusia karena bujuk rayu calo. Masih banyak calo yang berkeliaran merekrut buruh migran. Perempuan 47 tahun itu mengatakan calo-calo itu gencar membujuk korbannya yang miskin dan tinggal di desa-desa lereng Gunung Sumbing.

Calo di kecamatan itu bahkan ada yang punya jaringan dengan orang Malaysia. Calo itu rata-rata meraup untung Rp 5-Rp 8 juta dari hasil merekrut korban. Iming-iming yang mereka tawarkan adalah tidak perlu membayar proses pengurusan dokumentasi dan pelatihan di penampungan. “Cukup potong gaji,” kata dia. Pada 2000, Jumiyem menjadi buruh migran selama delapan bulan di Singapura tanpa perlindungan dari pemerintah sedikit pun. Ia tidak dibayar sepeser pun dari hasil kerja kerasnya di Singapura. Agen PJTKI yang mengirimnya lalu mengembalikan ke Indonesia dengan alasan ia tak becus bekerja.

Selang dua tahun, ia yang hanya lulusan sekolah dasar itu kembali tergiur berangkat ke Arab Saudi. Calo menjanjikannya dapat gaji Rp 1,8 juta per bulan di sana. Berkali-kali si calo membujuknya untuk bekerja di Arab Saudi. Nahas, majikan lelaki di keluarga tempat ia bekerja sering melakukan pelecehan seksual terhadapnya. Untuk mempertahankan diri, ibu dua orang anak itu mengambil setrika panas sebagai senjata untuk melindungi diri. Ia kerap dipukul menggunakan sandal oleh keluarga itu.

Di rumah keluarga Saudi itu, ia dieksploitasi. Ia dipaksa bekerja hampir seharian, pukul 3 dini hari ia baru pulang menyelesaikan tugas belanja dari majikannya. Keluarga Saudi itu juga kerap menitipkannya ke saudara mereka untuk dipaksa bekerja membersihkan rumah dan di dapur. “Saya kerap menahan lapar karena tidak mendapat jatah makan,” kata dia.

Tak tahan dengan perlakuan keluarga itu, ia menelepon Kedutaan Besar RI yang ada di Arab Saudi untuk mengadu. Petugas yang menerima teleponnya malah menyarankannya untuk bersikap tenang dan berganti majikan.

Ibu dua anak itu lalu nekat mendatangi kantor polisi Arab Saudi. Semula ia ditolak karena dituduh hendak membunuh majikannya. Dengan terbata-bata, ia yang tidak punya bekal Bahasa Arab yang baik berusaha menjelaskan kepada polisi pelecehan seksual bosnya. Beruntung, perempuan itu menyimpan rekaman CCTV dan menyerahkannya ke polisi sebagai bukti.

Sepulang dari Arab Saudi, perempuan itu kembali dirundung masalah. Anaknya sakit keras dan ia harus mencari jalan untuk membayar biaya pengobatan anaknya yang menderita tumor. Seorang calo yang terkenal punya banyak mangsa di kampungnya merayunya untuk berangkat ke Malaysia. Tahun 2004, ia bekerja kepada keluarga besar di Malaysia selama hampir dua tahun. Penderitaan tak kunjung sirna dari hidupnya.

Suatu hari ia dipaksa memandikan anjing bosnya yang galak. Perempuan itu ketakutan dan membuat bosnya marah besar. Tak tahan dengan perlakuan bosnya, ia memanfaatkan hari yang sepi untuk kabur. Perempuan itu kabur bersama seorang buruh migran asal Wonosobo yang juga mengalami eksploitasi dalam satu tempat kerja. Mereka tidak membawa uang sepeser pun. Paspor mereka ditahan majikan.

Di jalanan, mereka bersembunyi bila ada polisi Malaysia yang berpatroli. Mereka kelaparan dan menangis. Malam tiba, selama dalam pelarian mereka ditolong seorang pekerja kebersihan di kampus. Orang Malaysia itu memberi mereka sepotong roti dan menyiapkan gudang untuk tempat tidur. Tapi, orang Malaysia itu ternyata tidak tulus. Ia menawarkan mereka kepada pencari buruh migran.

Tanpa paspor, mereka tidak digaji penuh. Jumiyem nekat pulang ke Indonesia. Ia dideportasi melewati Dumai, Medan, dan Magelang. “Saya sendirian dan nggak tahu arah. Hanya ada uang satu juta rupiah yang habis untuk bayar transportasi,” kata dia.

Wariyatun, Direktur Sahabat Perempuan, organisasi nonpemerintah yang fokus pada isu perempuan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah mengatakan perekrut buruh migran membujuk korban yang kesulitan uang, miskin, dan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Perekrut bahkan mendekati orang-orang terdekat korban untuk memuluskan rencananya. “Mereka sangat lihai memperdaya korban. Membujuk berkali-kali hingga berhasil,” kata Wariyatun.

Dian Puspitasari, Direktur Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia atau LRC-KJHAM Semarang, mengatakan perekrut buruh migran menjerat korban perdagangan manusia dengan cara memalsukan dokumen. Misalnya memalsukan kartu tanda penduduk, alamat, dan nama buruh migran. Ada pula perekrut yang memalsukan paspor, misalnya buruh migran asal Pati yang bekerja di Hongkong punya dobel identitas atau data ganda. “Ada juga perekrut yang memacari korban,” kata Dian. (Shinta Maharani)

Catatan:
Tulisan ini telah dimuat di Tempo.co pada 22 November 2016