SINGKAWANG—Kisah tragis dari pengantin pesanan tidak hanya dialami oleh Eka, amoy asal Pemangkat Kabupaten Sambas. Banyak amoy Singkawang lainnya yang mengalami nasib buruk setelah menikah dengan pria Taiwan.

Kawin dengan pria Taiwan memang untung-untungan. Kalau mendapat pria baik, dan benar-benar untuk menikah, maka si amoy akan dapat meningkatkan taraf hidup diri dan keluarganya. Tapi bila tidak beruntung, maka pengalaman buruk berupa pemukulan, atau kekerasan dalam rumah tangga sering juga terjadi.
Afo (51), warga Tionghoa Singkawang ini juga mengisahkan kisah pahit yang dialami putri kedua kakaknya, setelah menikah dengan pria Taiwan. Alin—bukan nama sebenarnya—menikah dengan pria Taiwan sekitar 16 tahun yang lalu. “Anak kakak saya ini sekarang masih di Taiwan. Dia sudah tiga tahun yang lalu diceraikan oleh suaminya,” tutur Afo.

Lelaki berkaos putih itu diam sejenak. Keningnya mengerut, matanya menerawang. Dia tampak mengingat-ingat kembali kisah yang dialami keponakannya itu. “Keponakan saya ini menikah dengan pria Taiwan yang miskin dan malas,” lanjutnya bercerita.
Umur pernikahan Alin dengan pria Taiwan hanya sebentar. Berjalan hanya sekitar dua tahun saja. Suami Ame tidak mau bekerja. Pria Taiwan ini menceraikan Ame, setelah orang tuanya meninggal. “Alin dan seorang anaknya diusir dari rumah,” cerita Afo.

Ame sebenarnya pernah kembali ke Singkawang, saat ayahnya sakit. Sebenarnya, orangtua Allin ini tergolong orang yang ekonominya baik. Saat Alin kembali ke Singkawang, orang tuanya memberikannya uang. Namun oleh Alin, uang itu digunakannya untuk kembali ke Taiwan. Setelah diceraikan suaminya, Alin sempat terlantar di Taiwan. Tapi kabarnya sekarang, dia sudah mendapatkan kerja di Taiwan. “Katanya (Alin-red, kalau rajin mudah untuk mendapatkan pekerjaan di Taiwan,” beber Afo.

Berkah Bagi Orangtua

Tidak semua amoy Singkawang yang menikah dengan pria Taiwan mengalami kisah tragis. Kisah pengantin pesanan juga banyak yang berbuah manis. Bahkan mendatangkan berkah bagi orangtua si amoy yang tinggal di Singkawang.

Kemiskinan memang penyebab utama pengantin pesanan. Demi mengubah nasib dan ekonomi keluarga, seorang anak harus “berbakti” pada orangtua dan keluarga besarnya dengan menikahi pria Taiwan. Hingga kini, kantong-kantong kemiskinan yang sebagian besar penduduknya merupakan etnis Tionghoa, masih terlihat disejumlah wilayah di Kota Singkawang.

Salah satunya, perkampungan Kaliasin Kelurahan Sedau, Singkawang. Jalanan masuk ke perkampungan Kaliasin Dalam ini, sebagian besar dalam kondisi rusak parah. Tidak tampak lagi aspal hitam yang menutupi jalanan tersebut. Hanya batuan krikil yang masih tersisa di jalanan itu. Sepanjang jalan di perkampungan Kaliasin Dalam, sebagian besar tempat tinggal penduduk yang terlihat di sisi kiri kanan jalan, masih berupa gubuk. Kebanyakan rumah penduduk di Kaliasin berdinding papan dan beratapkan rumbia. Bahkan banyak di antaranya terlihat sudah sangat reot.

Perkampungan Kaliasin memang masih terbilang sepi. Jarak antar-rumah masih berjauhan. Hamparan sawah dan tanaman sayuran terlihat begitu hijau. Menyusuri jalanan di perkampungan Kaliasin, kita juga bisa menjumpai beberapa rumah penduduk yang terbilang mewah. Memang tidak semua penduduk Kaliasin tergolong miskin. Beberapa keluarga di antaranya telah berhasil membangun rumah beton. “Warga yang rumahnya bagus itu, mungkin anaknya ada di Taiwan,” ucap Akiong (71).

Akiong merupakan Ketua RT 27 Kaliasin Kelurahan Sedau. Kaliasin Dalam ini terdiri dari enam RT, mulai dari RT 24 hingga RT 27. “Jika ada anaknya yang menikah dengan orang Taiwan atau bekerja di Taiwan, biasanya anaknya membangun rumah untuk mamanya,” ujar Akiong.

Lelaki berusia 71 tahun ini juga memiliki seorang anak perempuan yang menikah dengan pria Taiwan. “Saya punya anak satu di Taiwan, sudah 20 tahun lebih menikah dengan pria Taiwan dan tinggal di sana,” katanya bercerita.

Akiong memiliki delapan anak, enam di antaranya perempuan. Anak perempuannya yang di Taiwan ini, biasanya tiga tahun sekali pulang ke Singkawang. Di Taiwan, anak perempuannya itu berjualan makanan bersama suaminya. Anaknya yang di Taiwan ini juga sering mengirimkan uang padanya. “Setahun dua kali ia kirim uang. Tak banyak sih, sekadar buat beli rokok,” tuturnya. Ia tersenyum.

Akiong menceritakan, anaknya bisa menikah dengan pria Taiwan, karena ada pria Taiwan yang datang ke rumahnya bersama seorang comblang asal Singkawang. Setelah anak perempuannya merasa cocok dengan pria Taiwan itu, akhirnya mereka menikah. “Dulu acara pernikahannya di sini. Di Taiwan juga menggelar acara,” tuturnya.
Kini anak gadis Akiong ini sudah menjadi warga negara Taiwan. Bagi Akiong, pernikahan anaknya dengan pria Taiwan membawa berkah tersendiri. Di Taiwan, anak perempuannya cukup sukses menjalankan usahanya. “Saya sudah dua kali main ke Taiwan. Di sana sebulanlah,” katanya.

Akiong mengaku sangat bersyukur anak perempuannya di Taiwan mendapatkan lelaki yang baik dan sayang sama keluarga. Setiap hari raya Imlek dan Sembayang Kubur, anak perempuannya yang di Taiwan ini selalu rutin mengirim uang padanya.

Kesuksesan yang dialami anak perempuannya ini, membuktikan menikah dengan pria Taiwan tidak selamanya berakhir buruk. “Kalau memang laki-lakinya bertanggung jawab, tetap baguslah nasibnya. Tapi kalau laki-laki Taiwannya lintang pukang, berantakanlah rumah tangga mereka,” bebernya.

Dua tahun yang lalu, pernikahan anak perempuannya dengan pria Taiwan berlangsung cukup meriah. Pria Taiwan yang menikahi anaknya itu termasuk baik. Selain perhiasan, 23 tahun yang lalu, pria Taiwan yang kini menjadi menantunya itu, memberi uang pada Rp1.060.000. “Mahar ini tidak ada ketentuan berapa besarannya. Sesuai kemampuan lelakinya saja,” tuturnya.

Meski anak perempuannya sukses menjalin rumah tangga dengan pria Taiwan, Akiong tidak menampik, cukup banyak juga amoy Singkawang yang mengalami kisah tragis seteleh menikah dengan pria Taiwan.
“Saya dengar, ada yang pergi ke Taiwan dua tahu, kemudian pulang karena gagal. Maklumlah rumah tangga, mungkin masalahnya nasib yang tidak bagus,” katanya.

Di RT yang dipimpinnya, ada beberapa warganya yang anak perempuan mereka menikah dengan pria Taiwan. Tapi katanya, tidak ada yang mengalami kisah tragis seperti yang diceritakan oleh banyak orang. “Di RT sini, tidak banyak juga keluarga yang anak perempuannya menikah dengan pria Taiwan. Di bawah 10 keluargalah,” katanya.

Saat ini, sejak tiga tahun terakhir, Akiong mengaku tidak pernah lagi mendengar ada pria Taiwan yang mencari calon istri di Singkawang. Terutama di daerah Kaliasin, tempat tinggalnya.

Cerita sukses anak gadisnya menikah dengan pria Taiwan juga diceritakan oleh warga Tionghoa Singkawang lainnya. Aliong, warga Tionghoa yang tinggal di Pasiran Singkawang Barat, mengisahkan kesuksesan anaknya setelah menikah dengan pria Taiwan. Anak perempuan pertamanya itu sudah 16 tahun menikah dengan pria Taiwan.

“Kalau anak saya yang menikah dengan orang Taiwan, nasibnya bagus. Tidak ada masalah,” ujarnya, saat ditemui Kapuas Post di rumah kediamannya.

Di Taiwan, suami anak perempuannya itu seorang pemborong. Sementara anak perempuannya bekerja di pabrik lampu. Kata Aliong, anak perempuannya mengenal pria Taiwan dari temannya yang sudah lama bekerja di Taiwan. Orang Taiwan ini kemudian datang ke Singkawang. Karena merasa cocok, merekapun menikah.
Dia menceritakan, suami anak perempuannya ini cukup baik. “Kalau menantu saya, sayang sama istri. Dia juga sering kirim uang. Ini rumah saya dibelikan anak juga,” katanya dengan senyum bangga.

Rumah Aliong terbilang besar. Rumah berlantai dua itu dibelikan oleh anaknya di tahun 2001, seharga Rp40 juta. Anaknya itupun sering membelikan pakaian untuk adik-adiknya. “Bantu orangtua sih sering. Imlek biasa kirim baju. Anak saya ini, pulangnya 5 tahun sekali, karena sudah menjadi warga negara Taiwan,” katanya. (Tantra Nur Andi)