Jakarta, JARING.id – Peran whistleblower (informan publik) sangat penting dalam mengungkap sejumlah kasus pelanggaran kepentingan publik, terutama kaitannya dengan tindak pidana korupsi. Namun whistleblower sering menanggung resiko besar sehingga harus disediakan saluran aman bagi mereka untuk menyampaikan informasi.

“Mereka adalah pahlawan, tindakan mereka bukan kejahatan. Informasi yang mereka berikan membantu mengungkap kejahatan,” kata Program Manager Free Press Unlimited Dessi Damianova lewat teleconference dalam peluncuran IndonesiaLeaks di Jakarta, Kamis (14/12).

Sudah seharusnya media dan organisasi masyarakat sipil bekerja sama dengan para peniup peluit. Hal inilah yang ingin diwujudkan sepuluh media dan lima lembaga masyarakat sipil yang berkolaborasi menggawangi lahirnya platform bersama bernama IndonesiaLeaks.id. Platform mandiri ini memungkinkan para informan publik melaporkan data dan dokumen terkait kepentingan publik secara anonim. Laporan ini akan diverifikasi oleh media dengan metode jurnalistik.

“Di dalamnya ada tiga hal mendasar, yaitu dukungan teknologi mutakhir yang menjamin kerahasiaan dan keamanan identitas para informan publik, yakni kerjasama antarmedia dan profesionalisme dalam penggarapan laporan jurnalisme investigasi, membongkar kasus korupsi, dan terakhir mendorong partisipasi serta perhatian publik dalam berkontribusi pada upaya pengawasan dan penghapusan korupsi,” ungkap Direktur Eksekutif Perhimpunan Pengembang Media Nusantara (PPMN) Eni Mulia.

Melihat laporan tindak pidana korupsi selama ini, Koordinator Indonesia Corruption Wacth (ICW) Adnan Topan Husodo mengatakan hampir seratus persen laporan yang ditindaklanjuti hingga proses hukum berasal dari para informan publik. Sebagian besar pelapor adalah orang dalam yang mengungkap korupsi tertutup pejabat negara.

“Peran whistleblower jadi sangat relevan karena biasanya orang dalam yang punya informasi secara lengkap,” ujarnya.

Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan juga menyampaikan peran justice collaborator dalam mengungkap kejahatan. Menurutnya, dalam sebuah persekongkolan akan selalu muncul ketidaksepahaman di antara mereka sehingga celah ini bisa dimanfaatkan dengan membuat saluran bagi mereka untuk berbicara.

“Pemberi informasi yang terlibat dalam kasus (justice collaborator) akan diberikan sanksi lebih rendah dan hak – hak khusus yang tidak didapat tersangka lain,” ungkapnya melalui teleconference. Novel saat ini masih berada di Singapura untuk menjalani pengobatan akibat serangan yang diterimanya pada April 2017 lalu.

Novel mengingatkan pentingnya identitas whistleblower tidak diketahui publik dan jaminan kemanan. Dengan metode pelaporan online dan pesan enskripsi, menurutnya, hal tersebut bisa mengurangi risiko.

Yunus Husein Staf Khusus Satgas Pemberantasan Illegal Fishing mengatakan blowing sistem yang dimiliki lembaga independen sangat diperlukan. Hal ini bisa menjadi kolaborasi masyarakat dengan penegak hukum melalui sistem pelaporan sebagai cara terbaik mengungkap kejahatan.

Sepuluh media yang tergabung dalam IndonesiaLeaks yaitu Bisnis Indonesia, CNN Indonesia, Independen.id, JARING, KBR, Liputan6.com, Suara.com, Sindo Weekly, Tempo.co, dan The Jakarta Post. Adapun lima organisasi masyarakat sipili yang mendukung platform ini adalah ICW, LBH Pers, Change.org, Greenpeace, dan Auriga. Inisiasi awal Indonesialeaks dilontarkan oleh empat lembaga yaitu PPMN, Tempo Institute, AJI Indonesia, dan Free Press Unlimited. (Debora Blandina Sinambela)

Categories: Aktivitas