Matahari belum sepenggalah ketika seorang perempuan melangkah ke muka rumah Mari, Februari 2017. Pakaiannya serba hitam dan hanya menyisakan sedikit bagian terbuka di sekitar dua bola mata.

“Kamu siapa?,” tanya Mari sembari menerka wajah di balik cadar.

Perempuan tersebut memperkenalkan diri dengan menyebut satu nama yang tak asing di telinga. Enggan lekas percaya, Mari meminta tamunya membuka cadar. Tak butuh waktu lama untuk memastikan wajah tersebut milik Lia, keponakannya.

Itu awal kemunculan Lia dihadapan keluarganya di Desa Doko, Kediri, Jawa Timur,  setelah setahun tak ada kabar di Turki. Lia pulang tidak sendiri, ia didampingi Datasemen Khusus 88 Antiteror.

Lia punya cerita identik dengan banyak perempuan di desanya. Dihimpit kondisi ekonomi, pendidikannya tak tuntas sampai Sekolah Menengah Atas. Di tengah terbatasanya pilihan pekerjaan, tawaran gaji besar mendorongnya menjajal peruntungan di negeri orang.

Sempat menjadi buruh migran di Malaysia dan Singapura, Lia memutuskan pindah ke Hong Kong pada 2010. Alasannya sederhana saja: negara tersebut menawarkan gaji berlipat dan sehari libur setiap pekannya.

“Di sana kan gajiannya banyak. Yang dikirim ya Rp1,5 juta sampai Rp1,7 juta,” tutur Joko, ayah Lia, kepada kami akhir September lalu.

Di akhir kontrak ketiga yang habis Agustus 2016, Lia mengabari sang ayah kalau jompo yang diurusnya sudah meninggal dunia sehingga majikan enggan memperpanjang kontrak. Hal tersebut tak membuat Lia kecut hati. Ia sudah tahu bagaimana akan melanjutkan hidup.

“Pak, saya mau pamit kerja jauh. Jauhan mana sama Hong Kong, Li? Jauh ini, Pak”, ungkap Joko menirukan percakapan dengan putri sulungnya ketika itu.

Ucapan pamit yang disampaikan lewat sambungan telepon tersebut tak lantas diiyakan Joko. Ia meminta Lia menahan keinginannya bekerja di pabrik roti yang terletak di Turki. Namun, Lia berdalih kalau kepergian tak bisa ditunda lantaran majikan baru sudah membelikan tiket.

Dua Versi

Tak jelas berapa pendapatan Lia di Turki, tetapi perempuan kelahiran 1982 tersebut berhenti mengirim uang ke Indonesia. Padahal, ia masih punya tanggungan seorang anak lelaki yang tinggal bersama sang kakek.

Kepada Ayu, adiknya, Lia menyampaikan cerita dengan versi berbeda soal pekerjaannya di Turki.

“Katanya tidak kerja. Kalau di Hong Kong kerja, di Turki tidak, jadi tidak bisa kirim uang,” tutur Ayu kepada kami, September lalu.

Alih-alih bekerja di pabrik roti, keseharian Lia di Turki diisi dengan memasak, mengaji, dan berkumpul bersama beberapa orang Indonesia lainnya. Dia juga tidak tinggal di hotel seperti yang diceritakan pada sang ayah, melainkan hidup berpindah dari satu lokasi ke lokasi. Tempatnya tinggal disebut Lia sebagai penampungan.

“Entah bagaimana ceritanya, terus dirazia lalu disuruh pulang (ke Indonesia),” terang Ayu.

Ayu sempat menelisik penyebab aparat merazia tempat pengampungan Lia, tetapi hanya geming yang didapatnya sebagai jawaban. Ia sadar betul soal perubahan kakaknya yang enggan banyak cakap semenjak pulang dari Turki.

“Kayaknya (ada yang ditutupi). Dulu (Lia) sering cerita, sekarang malah lebih diam kalau ditanya,” imbuh dia.

Dari berita televisi, Ayu tahu kabar mengenai beberapa Warga Negara Indonesia yang dipulangkan dari Turki karena berusaha menyeberang ke Suriah. Namun, Ia tak yakin kakaknya terlibat kasus serupa.

Enggak (cerita) sama sekali. (Saya) Kaget kok bisa ikut jaringan (ISIS) itu kenapa,” Ayu terheran.

Meminta Buku

Pascadeklarasi Negara Islam Irak dan Suriah, beberapa Buruh Migran Indonesia di Hong Kong berusaha mewujudkan fantasinya hidup dalam naungan khilafah. Beberapa diantaranya berhasil menyeberang ke Suriah, sedangkan sisanya tertahan di Turki dan terhadang pengetatan batas negara.

Setahun sebelum Lia dipulangkan Densus 88 ke Indonesia, BMI asal Hong Kong lainnya mengalami nasib serupa. Sekretaris Desa Surjo, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Teguh Kurniawan sempat berbincang dengan Aya dan menanyakan alasan dibalik niatnya hijrah ke Suriah.

“Dia bilang ingin mendalami ilmu agama yang lebih. Lalu saya tanya dapat informasi dari mana (soal ISIS)? Dari Facebook,” jelas Teguh, Oktober lalu.

Gagal masuk ke Suriah tidak membuat hasrat Aya memperdalam ilmu agama sirna begitu saja. Ia sempat meminta dicarikan beberapa buku, salah satunya dikarang Sayyid Qutb, pentolan Ikhwanul Muslimin yang dieksekusi pemerintah Mesir karena dituding terlibat dalam rencana penggulingan Presiden Mesir Gamal Abdul Naseer.

Tak mudah mencari buku bacaan di daerah seperti Batang. Apalagi beberapa judul yang diinginkan Aya memang tak muncul di pasaran dan hanya beredar tangan ke tangan di kalangan pendukung Islam ekstrim.

Namun, perempuan kelahiran tahun 1991 seolah tak peduli. Buat dia, Pak Sekdes harus bisa memenuhi permintaan warga apapun harganya.

“Saat bersepeda, sekitar musim haji 2016, dia pernah berhenti untuk mempertanyakan buku. Saya jawab belum dapat, lalu dia menjawab Pak Carik bohong. Malah ngatain saya gitu, terus pergi lagi,” keluh Teguh.

Hilang

Setelah ngeloyor pergi dan meninggalkan tudingan pendusta, Teguh tak lagi mendapat kesempatan bertatap muka dengan Aya. Dari sang Ayah, dia mendapat kabar kalau Aya sempat pamit ke Pekalongan untuk mencari buku.

Sampai sekarang, Aya tak pernah lagi nongol  di Desa Surjo, begitu juga dengan buku yang diinginkannya. Ayahnya pun tak tahu harus mencari kemana.

Namun, jejak ketertarikannya pada pemahaman Islam ekstrim masih terendus dari beberapa foto profil yang dipajang Aya di akun pesan instannya. Seorang sumber membagikan beberapa tangkapan layarnya kepada kami.

Salah satu foto profilnya menampilkan kolase foto yang berisikan beberapa pemuka agama dalam dan luar negeri, termasuk Anjem Choudary dan Omar Bakri Muhammad. Keduanya adalah dedengkot organisasi Al-Muhajiroun, organisasi yang dimasukkan pemerintah Arab Saudi dalam daftar hitam sejak 1986.

Aya juga sempat memperbaharui status di akun pesan instannya dengan kalimat penolakan atas demokrasi dan anjuran untuk berjihad. Sumber kami menyebut Aya sempat terlacak berada di  di Bekasi dan Aceh sebelum terpantau berada di Poso, Sulawesi Tengah belum lama ini.

Kasus serupa terjadi pada Lia yang juga raib dari desanya setelah sebulan dipulangkan.  Sempat bekerja satu bulan di Kediri, Lia pamit kepada ayahnya untuk ikut majikan pindah ke Bandung, Jawa Barat. Merasa ada yang ganjil, beberapa hari setelah anaknya pamit, sang Ayah berusaha memeriksa langsung ke rumah sang majikan.

Joko terhenyak setelah tahu kalau majikan Lia tidak pindah ke Bandung dan masih berada di Kediri. Lia kembali mengelabui Joko dengan alibi pindah kerja.

Bertahannya Fantasi

Peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia, Alfindra Primaldhi, menilai Warga Negara Indonesia yang dideportasi dari Turki karena berusaha menyeberang ke Suriah masih memendam fantasi soal kehidupan negara Islam dalam kepalanya.

“Mereka yang dikembalikan itu tidak pernah sampai Suriah. Jadi pengetahuan mereka terhadap apa yang terjadi di Suriah itu didapatkan dari sumber-sumber lain misalnya gosip atau cerita-cerita di media sosial bukan pengalaman langsung,” terang Alfindra, November lalu.

Di sisi lain, lanjut dia, tak sedikit simpatisan ISIS yang berhasil menyeberang ke Suriah namun pulang dengan kecewa. Kondisi riil di Suriah tidak sejalan dengan fantasi kehidupan Islami yang mereka bayangkan selama ini.

“Setelah dikembalikan ke lingkungan yang diterima keluarga RT/RW, tidak ada yang bisa pantau (para deportan) selama 24 jam,” kata Irfan, Oktober lalu.

Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Teroris Irfan Idris mengatakan beberapa deportan yang dipulangkan kepada keluarga sudah mendapatkan materi deradikalisasi. Adapun mereka yang tidak menjalani proses tersebut tidak bisa dipantau secara terus-menerus oleh BNPT.

“Setelah dikembalikan ke lingkungan yang diterima keluarga RT/RW, tidak ada yang bisa pantau (para deportan) selama 24 jam,” kata Irfan, Oktober lalu.

Salah satu yang hilang dari radar BNPT adalah Anggi Indah Kusuma, Buruh migran Indonesia yang dideportasi dari Hong Kong pada April 2017. Ia dipulangkan ke Indonesia setelah mengunggah rekaman video dirinya sedang mengibarkan bendera ISIS di salah satu sudut Hong Kong.

“Anggi biasa saja anaknya sebelum ke Hong Kong. Dia tidak ada cerita apa-apa. Tahu-tahunya dia diantar oleh densus dan polisi, ” kata Susilo saat kami temui akhir September 2017.

Perempuan yang mengambil nama alias Khanza tersebut tidak banyak bicara dan lebih banyak mengurung diri dalam rumah setelah dipulangkan Densus 88. Seminggu setelahnya, memanfaatkan kondisi rumah yang sedang ditinggal para penghuni, Ia bergegas ambil langkah seribu.

Jejaknya sempat tak terlacak hingga pada akhirnya Densus 88 mengendus jejaknya di Bandung, Jawa Barat, pada Selasa, 15 Agustus 2017. Kali ini, aparat tidak memboyongnya kembali ke rumah, tapi menyeretnya ke Markas Komando Brigarde Mobil (Mako Brimob), Kelapa Dua, Depok. Ia dan empat rekannya diduga merencanakan aksi pengeboman di Istana Presiden dengan menggunakan bom kimia.

Semoga mereka yang hilang setelah pulang tak mengambil langkah seperti Anggi. Pintu rumah selalu dibuka untuk mereka, seperti halnya kalimat penutup yang Joko titipkan melalui kami untuk Lia, anaknya.

“Sebelumnya minta maaf, kalau misalnya besok ketemu (Lia) suruh pulang. Saya sangat merindukan (dia),” Joko berpesan dengan terbata.